Selasa, 07 Juni 2011

gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri SMP tentang menarche


KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP
REMAJA PUTRI SMP KARTIKA –II 3
TENTANG MENARCHE
TAHUN 2010








                                      




Oleh :

SINDI FIRMANSYAH
NIM. 2008.0359








PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LAHAT
AKADEMI KEPERAWATAN PEMDA LAHAT
TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULAN
1.1              Latar Belakang
      Jumlah peduduk Indonesia sejak lama diketahui berada diposisi 4 dunia dan 3 di asia. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus ini adalah sebanyak 237.556.363 jiwa yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 % per tahun       ( BPS pusat  2010 ).
     Penduduk Sumatera Selatan sebesar 6,7 juta jiwa dengan penduduk asli Sumatera Selatan terdiri dari kelompok-kelompok etnis dengan berbagai bahasa dan logat bahasa lokal. Kelompok-kelompok etnis dan suku dimaksud adalah Palembang, Ogan komering, Semendo, Pasemah, Gumai, Lintang, Musi rawas, Meranjat, Kayu agung, Ranau, Kisam dan lain-lain (BPS Sumatera Selatan 2010).
     Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut masa pubertas yaitu masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Dan dari berbagai ciri pubertas tersebut, menarche merupakan masalah yang  mendasar  antara pubertas pria dan pubertas wanita. Menarche adalah saat haid / menstruasi yang datang pertama kali yang merupakan sebenarnya puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil.
     Usia remaja putri saat mengalami menstruasi menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukan bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, kedang gizi dan kesehatan umum. ( Sarwono, 2005 ).
     Peristiwa ini merupakan  pertumbuhan dan perkembangan tanda seks skunder wanita itu. Tanda seks skunder wanita meliputi pertumbuhan rambut dengan patrun/pola tetentu pada ketiak, rambut monpeneris (rambut kemaluan ), pertumbuhan buah dada, pertumbuhan distribusi jaringan lemak terutama pada pinggang wanita. Dari sudut perasan kewanitaan suda memperhatikan jasmani dan kecantikan, mulai ingin di puja dan memuja seseorang karena jatuh cinta. Masa pacaran ini yang penting diperhatikan oleh orang tua karena sejak masa mestruasi pertama berarti ada kemungkinan untuk hamil bila berhubungan dengan lawan jenisnya.(Manuaba, 1998 ).
     Sebab itu, sosialisasi program kesehatan reproduksi dikalangan remaja harus lebih pada menanamkan kesadaran akan arti pentingnya kesehatan reproduksi. Mengingat masih banyak keluarga atau orang tua yang tidak memberi cukup ruang kepada anak-anaknya untuk bertanya tentang kespro. Juga agar remaja memiliki pemahaman tentang kesehatan reproduksi dari sisi medis tentunya.
      Menurut Keputusan Mentri Republik Indonesia Nomor 1475/MENKES/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Kesehatan Kabupaten/Kota menargetkan 80 % untuk cakupan pelayanan kesehatan remaja.
Berdasarkan data statistik selama sensus penduduk kabupaten Lahat tahun 2010 didapat secara hitungan manual maka pertumbuhan penduduk dikabupaten lahat naik 7,85 % hal ini setelah dilihat dari data terdahulu, jumlah penduduk kabupaten Lahat tahun 2010 berjumlah 368.380 jiwa. Data tahun 2009 jumlah penduduk kabupaten Lahat sebanyak 341.556 dengan jumlah remaja yang berumur 10-14 tahun sebanyak 15.202 jumlah remaja putri dan 17.335 jiwa penduduk laki-laki serta jumlah remaja yang berumur 15-19 tahun sebanyak 16.575 jiwa penduduk laki-laki dan 13.654  jiwa penduduk perpuan ( BPS Lahat 2009 ).
     Di SMP Kartika-II lahat terdapat 180 remaja putri. Dari hasil prasurvei terhadap 60 siswi SMP Kartika-II sebanyak 50 orang siswi yang belum perna  mendapat informasi tentang menarche ( haid pertama ) dan 10 orang menyatakan sudah pernah mendapatkan informasi tentang menarche oleh ibu mereka.
     Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang bagaiman gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri  tentang menarche di SMP Kartika-II lahat.



1.2              Rumusan Masalah
     Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut: bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP Kartika-II lahat tahun 2010.

1.3              Tujuan Penulisan
1.3.1        Tujuan Umum
     Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang  menarche di SMP Kartika-II lahat.
1.3.2        Tujuan Khusus
a.       Untuk memperoleh gambaran pengetahuan remaja putri tentang menarche di SMP Kartika-II lahat
b.      Untuk memperoleh gambaran sikap remaja putri tentang menarche di SMP Kartika-II lahat
1.4              Manfaat penelitian
1.4.1        Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat khususnya pada mata kuliah keperawatan komunitas, metode penelitian dan reset keperawatan.



1.4.2        Bagi SMP Kartika-II Lahat
Sebagai masukan informasi bagi sekolah mengenai gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche. Sehinggga bisa memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi bagi para murid terutama siswi SMP kartika-II lahat.
1.4.3        Bagi pendidikan
Sebagai umpan balik terhadap penerapan teori sistem serta hasil yang nyata bagi mahasiswa guna meningkatkan mutu pendidikan.













BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA
A. Menarche
1.  Pengertian Menarche
     Menarche didefinisikan sebagai pertama kali menstruasi, yaitu keluarnya cairan darah dari alat kelamin wanita berupa luruhnya lapisan dinding dalam rahim yang banyak mengandung pembuluh darah. Sudah lebih dari setengah abad rata-rata usia menarche mengalami perubahan, dari usia 17 tahun, menjadi 13 tahun, secara normal menstruasi awal terjadi pada usia 11 – 16 tahun (Kartono, 1992).
     Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali pada seorang remaja putri yang baru menginjak dewasa ( Llewellyn-Jones, 2005 )
     Usia remaja putri pada waktu mengalami minarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata terjai pada usia 12,5 tahun. Menarche yang terjadi sebelum usia 8 tahun disebut menstruasi precox ( Sarwono, 2005).
     Seiring dengan perubahan pola hidup saat ini ada kecenderungan anak perempuan mendapatkan mensteruasi pertama kali usianya makin lebih muda. Ada dua faktor yang menyebabkan datangnya mensteruasi lebih dini, yaitu faktor internal dan eksternal. Foktor internal biasanya terjadi karena adanya ketidak seimbangan hormonal yang dibawah sejak lahir. Kondisi ini kemudian dipicu oleh faktor eksternal, seperti makanan ( terutama junkfood ), lingkungan yang moder serta tigkat kemakmuran masyarakat disuatu daerah.
     Kejadian yang  penting dalam pubertas adalah pertumbuhan badan yang cepat, timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder, menarche dan perubahan psikis. Menarche merupakan perbedaan yang mendasar antara pubertas pria dan wanita. Pengaruh peningkatan hormon yang pertama-tama nampak adalah perubahan pada anak yang lebih cepat  terutama pada ekstermitasnya, dan badan lambat laun mendapat bentuk sesuai dengan jenis kelamin.
     Perkembangan dalam bidang rohani adalah penyesuaian diri dalam alam terlindung serta aman menuju ke arah alam berdiri sendiri dan bertanggung jawab, dari alam pikiran egosentrik ke arah alam pikiran yang lebih matang.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Menarche
Menurut Wiknjosastro (2005) faktor-faktor yang mempengaruhi menarche ada 3 yaitu sebagai berikut :
a.       Faktor keturunan
Saat timbulnya menarche juga kebanyakan ditentukan oleh pola dalam keluarga. Hubungan antara usia menarche sesama saudara kandung lebih erat dari pada antara ibu dan anak perempuannya.


b.      Keadaan gizi
Makin baiknya nutrisi mempercepat usia menarche. Beberapa ahli mengatakan anak perempuan dengan jaringan lemak yang lebih banyak, lebih cepat mengalami menarche dari pada anak yang kurus.

c.       Kesehatan umum
Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak gadis seperti penyakit kronis, terutama yang mempengaruhi masukkan makanan dan oksigenasi jaringan dapat memperlambat menarche. Demikian pula obat-obatan.

3.  Haid
     Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai pelepasan endometrium. Lama haid biasanya antara 3-5 hari, ada 1-2 hari yang diikuti darah sedikit-sedikit kemudian ada yang 7-8 hari. Pada setiap wanita lamanya haid itu tidak tetap ( Sarwono, 2005 ).
     Haid bukanlah sebuah penyakit. Haid merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaj putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil ( Llewellyn-Jones, 2005 ).


4.      Fakta-fakta mengenai haid
     Selama dua hari sebelum haid belum dimulai, banyak wanita merasa tidak enak badan. Mereka mengalami pusing-pusing, perut kembung, letih atau mudah tersingung dan mungkin merasakan tekanan daerah pinggul. Pada dasarnya gejalah hilang setelah haid dimulai. Haid biasanya berlangsung 3 sampai 7 hari dan rata-rata jumlah kotoran haid yang keluar adalah 30 ml, meskipun ada yang kurang  dan lebih. Kehilangan darah atau cairan lebih dari 80 ml merupakan hal tidak wajar. Biasanya disertai kehilangan massa darah. Haid biasanya terjadi setiap 22 atau 35 hari, tapi setiap wanita mempunyai pola masing-masing.
( Llewellyn-Jones, 2005 ).

5.  Siklus Haid
     Siklus haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari ditambah atau dikurang 2-3 hari ( Sarwono, 2005 )  
     Pada dasarnya siklus haid pada setiap wanita bervariasi, karena kadar hormon estrogen yang diproduksi oleh stiap tubuh wanita berbeda. Menarche yang diikuti haid yang tidak teratur karena folikel Graaf belum melepaskan ovum disebut ovulasi. Tetapi lamanya sekitar 4 sampai 6 tahun sejak menarche, pola haid suda terbentuk dengan siklus haid yang lebih teratur ( Llewellyn-Jones, 2005 ).

6.      Fase-fase dalam siklus haid adalah sebagai berikut
a. Fase Menstruasi
Berlangsung sekitar 3-4 hari. Dalam fase ini endometrium dilepaskan dari dindig uterus disertai perdarahan. Hanya yang tertinggal stratum basele. Darah  haid mengandug darah vena dan arteri dengan sel-sel darah merah dalam hemolisis atau aglutinasi , sel-sel epitel dan stroma yang mengalami disentegrasi dan otolisis, dan sekret dari uterus, serveks, dan kelenjar-kelenjar vulva.
b. Fase regenerasi 
Fase ini berlangsung hari ke empat menstruasi, luka bekas pelepasan endometrium sebagian besar berangsur-angsur sembuh dan ditutup kembali oleh epitel selaput lendir endometrium. Sel basalis mulai berkembang , mengalami mitosis dan kelenjar endometrium mulai tumbuh kembali.
c. Fase proliferasi
Berlangsung sejak hari ke 5 sampai 14. Pada fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal  3,5 mm.
Dalam fase regenerasi sampai proliferasi, endometrium dipengaruhi oleh hormon estrogen dan sejak ovulasi korvus luteum mengeluarkan hormon estrogin dan  progesteron yang mempengaruhi terjadinya fase sekresi.
d. Fase sekresi 
               Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke 14 sampai hari ke 28. dalam fase ini tebal endometrium tetap, hanya kelenjarnya lebih berkelok-kelok dean mengeluarkan sekret. Sel endometrium mengandung banyak glikogen, protein, air dan mineral untuk persiapan menerima inplantasi dalam memberikan nutrisi pada zigot ( Sarwono, 2007 ).

B. Remaja
1. Pengertian Remaja
     Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, diawali dengan masa puber, yaitu : proses perubahan fisik yang ditandai dengan kematangan seksual, kognisi, dan psikososial yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya ( Papila, 2001 ).
     Batasan usia remaja adalah usia 12-23 tahun. Berdasarkan tingkatan sekolah, siswa SLTP berusia sekitar 12-15 tahun disebut remaja awal. Siswa SMU berusia sekitar 15-18 tahun disebut remaja menengah. Mahasiswa berusia sekitar 18-23 tahun disebut remaja akhir ( Ali Samil, 2000 ).
     Menurut kesepakatam Persatuan Bangsa-Bangsa ( PBB), pada tahun 1974, WHO memberikan definisi remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam konsep tersebut ditemukan 3 kriteria, yaitu : biologik, psikologik, da sosial ekonomi, sehingga secara bertahap berbunyi :
1.      Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai ia mencapai kematangan seksual.
2.      individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak sampai dewasa.
3.      Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yag relatif lebih mandiri.
     Jadi, remaja merupakan anak tanggungan karena remaja sudah tidak lagi anak-anak tetapi belum bisa disebut sebagai orang dewasa. Pada masa usia ini remaja mengalami peralihan dari mas anak-anak ke masa dewasa.
     Remaja juga disebut sebagai generasi muda penerus bangsa. Potensi remaja sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Remaja adalah calon pemimpin, penerus dan pengelola bangsa. Jika remaja sudah tidak peduli dengan masa depannya, maka negaranya bisa hancur ( Sukoharjo, 2000).
     Terjadinya pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja, termasuk pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan, sehingga mampu melangsungkan fungsi reproduksi. Perubahan itu ditandai dengan munculnya tanda-tanda sebagai berikut: tanda-tanda seks primer, yaitu yang berhubungan langsung dengan organ seks yaitu terjadinya haid pada remaja puteri (menarche) dan terjadinya mimpi basah pada remaja laki-laki (Depkes RI, 2001).
     Proses perubahan kejiwaan berlangsung lebih lambat dibandingkan perubahan fisik yang meliputi :
1.      Perubahan emosi, sehingga remaja menjadi sensitif (mudah menangis, cemas, frustasi dan tertawa; agresif dan mudah bereaksi terhadap rangsangan luar yang berpengaruh, sehingga misalnya mudah berkelahi.
2.      Perkembangan intelegensia, sehingga remaja menjadi: mampu berpikir abstrak, senang memberi kritik, ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku ingin mencoba-coba (Depkes RI, 2001).
2. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja
Pada setiap tahapan usia mempunyai tujuan untuk mencapai suatu kepandaian, keterampilan, pengetahuan, sikap, dan fungsi tertentu, sesuai dengan kebutuhan pribadi yang timbul dari dalam dirinya sendiri dan tuntunan yang datang dari masyarakat sekitarnya.
Pada remaja, tugas perkembangan itu, menurut Robert Havighurst adalah :
1.      Menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkan tubuhnya secara efiktif
2.      Menerima hubungan yang lebih matang dari teman yang sebaya dari jenis kelamin yang mana pun.
3.      Menerima peran jenis kelamin masing-masing ( laki-laki dan perempuan )
4.      Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya.
5.      Mempersiapkan karier ekonomi
6.      Mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga
7.      Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
8.      Mencapai sistem nilai dan etika tetentu sebagai pedoman tingkah lakunya.

C.  Pengetahuan
1.      Pengertian pengetahuan
     Pengetahuan ( knowledge ) adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan ”what” , misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya. ( Notoatmojo, 2010 ).
     Pengetahuan adalah hasil dari tau dan ini terjadi setelah orang  melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu : penglihatan, penciuman, rasa dan raba ( Notoatmojo, 2010 ).

2. Tingkatan Pegetahuan
      Pengetahuan mempunyai tingkatan yaitu
a.      Tahu ( know )
Yaitu kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya adalah mengingat kembali ( recall ) terhadap suatu yang spesifik dari suatu bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b.      Memahami (comprehetion )
Yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengenterpentasikan materi tersebut secara benar.
c.       Menerapkan ( application )
Yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu kondisi atau situasi yang riil ( sebenarnya )
d.      Analisis ( analysis )
Yaitu kemampuan untuk menyebarkan materi suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu dengan yang lainnya.
e.       Sintesa ( Synthesis )
Yaitu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f.       Evaluasi ( evaluation )
Yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada, misalnya dapat mebandingkan, menaggapi pendapat dan menafsirkan sebab-sebab suatu kejadian ( Notoatmojo, 2003). 

D. Sikap
1.      Pengertian Sikap
     Sikap reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap sesuatu stimulasi atau obyek. Manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari prilaku yang tertutup. Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif  tertentu ( Notoadmojo, 2007 )

2. Komponen Sikap
     Adapun  komponen yang saling bersama-sama membentuk sikap yang utuh       ( total attitud ) yaitu :
a.             Kognitif  ( cognitive )
Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat  diharapkan  dari obyek tertentu.
b.            Afektif ( affictive )
Menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu.


c.             Konatif (conative )
Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri sesorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi (Notoatmojo, 1997 ).

3. Tingkatan sikap
Berbagai tingkatan dalam pembentukan sikap yaitu :
a.       Menerima ( receiving )
Pada tingkat ini, seseorang sadar akan kehadiran sesuatu dan orang tersebut akan menjelaskan sikap seperti mendengarkan, menghindari, atau menerima keadaan tersebut.
b.      Merespon ( responding )
Yaitu memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
c.                   Menghargai ( valuving )
Sikap individu mengajak orang lain  untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
d.      Bertanggung Jawab (  Responsible )
Rasa tanggung jawab dan siap menangung segalah resiko atas segala sesuatu yang telah dipilihnya (Notoatmojo, 2007 ).

            E.  Hasil Penelitian Terdahulu
Berdasakan penelitian terdahulu oleh Addy A 25 agustus 2009, tentang Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang Menarche didapat  : Gambaran pengetahuan remaja putri tentang menarche secara keseluruhan masuk dalam kategori tidak baik yaitu 56,91 % disebabkan kurang mendapat informasi yang jelas tentang menarche  sedangkan gambaran sikap termasuk dalam kategori tidak mendukung yaitu 52,29 % karena dipengaruhi oleh pengetahuan yang kurang.

   























BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep
     Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan ( Notoadmojo, 2005 ). Variabel dependen ( Menarche ) maupun variabel independen ( pengetahuan dan sikap remaja putri ) melalui penelitian yang akan dilakukan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan dibawah ini.

Kerangka Konsep Penelitian
            Variabel Independen                                    Variabel Dependen


 

         Pengetahuan remaja Putri








 

                                                                                        Menarche
               Sikap Remaja Putri                                                                                                 
  
                                                  
3.2 Definisi Oprasional
3.2.1 Variabel Dipenden
                Menarche
a.       Pengertian                   : Haid yang datang pertama kali pada remaja
b.      Cara ukur                    : Wawancara
c.       Alat ukur                     : Kuesioner
d.      Hasil Ukur                   : - Pernah menarche
  - Tidak pernah menarche
e.       Skala ukur                   : Ordinal

3.2.2 Variabel independen
   1. Pengetahuan
a.   Pengertian       : Kemampuan responden dalam menjawab kuesioner yang       diberikan
b.      Cara Ukur       : Wawancara
a.       Alat Ukur        : Kuesioner
b.      Hasil Ukur       : 1. Baik ( Jika 75 % jawaban benar dari 15 pertanyaan )
     3. Kurang ( Jika < 75 % jawaban benar dari 15                    Pertanyaan)
c.       Skala               : Ordinal

2. Sikap
a.       Pengertian       : Prilaku dalam menerima menarche
b.      Cara Ukur       : Angket
c.       Alat Ukur        : Kuesioner
d.      Hasil Ukur       : 1. Positif ( Jika responden menjawab ya > 6 dari 10
      Pertanyaan )
                                                  2. Negatif (Jika responden menjawab tidak ≤ 6 dari 10
                                    Pertanyaan )
e.       Skala               : Ordinal

3. Remaja putri
a.       Pengertian       : Usia beranjak dewasa pada anak perempuan  ( umur 12-17 tahun )
b.      Hasil Ukur       : - Pernah menarche
  - Tidak pernah menarche




  


BAB IV
METODE  PENELITIAN

4.1   Rancangan penelitian
     Rancangan penelitian adalah pola rencana kegiatan penelitian yang disusun sedemikian rupa untuk menjawab penelitian. Rencana penelitian yang digunakan adalah penelitiam diskriptif dimana penelitian hanya untuk mengetahui gambaran tentang tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri terhadap menarche secara obyektif tanpa menganalisis lebih lanjut.
     Penelitian diskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif.            ( Notoatmojo, 2005 )

4.2   Populasi Penelitian
     Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau keseluruhan objek yang diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama ( Notoatmojo, 2003 ).
     Populasi adalah subyek yang memenuhi keriteria yang telah ditetapkan
 ( Nursalam, 2003 ).Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas VII, VIII dan IX  SMP Kartika –II 3 lahat yang memiliki rentang usia antara 12-17 tahun, dimana rentang usia ini menurut Ali Salim masuk kedalam remaja awal, yang berjumlah 120 orang siswi dengan rincian sebagai berikut :

a.       Siswi kelas VII ada 42 orang
b.      Siswi kelas VIII ada 38 Orang
c.       Siswi kelas I X ada 40 Orang

4.3   Sample Penelitian
     Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yag diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo, 2005 ). Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri atau siswi SMP Kartika II 3 lahat kelas VII, VIII dan IX pada tahun 2011.
                           N
         n =
                      1 + N ( d² )
                         
                             120
n = 
                     1 + 120 ( 0,1 ² )
                        
                         120
n =     
    2,2

         n =   54 orang



     Keterangan          :
         n = Jumlah Sampel
         N = Jumlah Populasi
         d =  Tingkat Signifikasi ( d = 0,1 )
     Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling, pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel secara quota atau jatah. Tehnik sampling ini digunakan pertama-tama menetapkan berapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quantum ( jatah ). Kemudian jumlah atau quantum itulah yang dijadikan dasar untuk pengambilan unit sampel yang digunakan ( Notoatmojo, 2005 ).

4.4 Lokasi dan Waktu Penelitian
4.4.1 Lokasi Penelitian
                    Lokasi penelitian dilaksanakan di SMP Kartika II 3 Lahat
4.4.2 Waktu Penelitian
                        Penelitian dilakukan pada bulan april sampai mei 2011.
  



 
4.5 Tehnik dan Instrumen Pengumpula Data
4.5.1 Tehnik Pengumpulan Data
1.      Data Primer
     Data sikap dan pengetahuan siswi melalui wawancara menggunakan daftar pertanyaan berupa kuesioner.
2.      Data sekunder
     Diperoleh melalui Dinas Pendidikan Kabupaten, Badan Pusat Statistik  Kabupaten dan SMP Kartika -II 3 lahat.
    
4.5.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data dengan kuesioner sebagai pedoman wawancara.

4.6 Tehnik Pengolahan Data
Setelah terkumpulnya data melalui kuesioner, maka dilakukan tahap pengolahan data yang melalui beberapa tahapan sebagai berikut. 
a.       Pengeditan  ( Editing )
Pada tahap ini, penulis melakukan penilaian terhadap data  yang diperoleh kemudian diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam pengisiannya.


b.      Pengkodean ( Coding )
Setelah diakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudakan dalam menganalisis data.
c.       Skor ( Scorsing )
Pada tahap ini, untuk variable pengetahuan, hasil ukurnya jika jawaban benar diberi nilai 1 dan jika salah nilainya 0. untuk varibel sikap untuk kategori favorable hasil ukurnya bila SS = 4, S = 3, TS = 2 dan STS = 1. Sedangkan pada unfavorable bila SS = 1, S = 2, TS = 3 dan STS = 4.
d.      Pengolahan  ( Tabulating )
Setelah dilakukan pengkodean dan scorsing pada semua data selanjutnya data diolah secara manual.

4.7   Tehnik Analisis Data
Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat, dimana secara menyeluruh data yang sejenis atau mendeteksi digabungkan, yang kemudian dibuat table distribusi frekuinsi untuk dipresentasikan.

           




BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1  Gambaran umum tempat penelitian
1.      Lokasi
SMP kartika –II 3 lahat beralamatkan Jl. Kapten Zen Ali pasar lama lahat,  diatas tanah berukuran ± 1 hektar.
2.      Berdiri
a.       Awal tahun 1986
1.      Jumlah lokal belajar                                   : 11 ruang
2.      Jumlah kantor kepala sekolah                   : 1   ruang
3.      Jumlah kantor wakil kepala sekolah          : 2   ruang
4.      Jumla kantor guru                                     : 1   ruang
5.      Jumlah kantor tata usaha                           : 1   ruang
6.      Jumlah wc kepalah sekolah                       : 1   ruang
7.      Jumlah wc tata usaha                                : 1   ruang
8.      Jumlah wc siswa                                       : 3   ruang
9.      Jumlah laboratorium                                  : 1   ruang
10.  Jumlah perpustakaan                                 : 1   ruang


b.      Tambahan bagunan
-  Tahun 2009 -2010 lokal belajar                   : 2   kelas

3.      Nama
a.       Tahun 1986-2000                          : SMP Candra Kirana
b.      Tahun  2000- sekarang                  : SMP Kartika – II 3 Lahat

4.      Visi dan Misi SMP Kartika –II 3 lahat
Visi      : Terwujudnya generasi muda yang unggul dalam prestasi, iptek dan Imtaq.
Misi     :
1.      Peningkatkan kegiatan pembelajaran dan bimbingan secara efiktif
2.      Mampu bersaing masuk sekolah kejenjang yang lebih tinggi
3.      Berprestasi di bidang olaraga dan kesenian
4.      Meningkatkan seni baca tulis Al-Qur’an
5.      Menumbuhkan bakat, kreatifitas dan motivasi siswa
6.      Membudayakan disiplin kebersihan, sopan santun dan berbudi luhur.


     Selain memberikan materi pelajaran sesuai kurikulum, SMP kartika – II lahat juga mengadakan kegiatan ektrakulikuler yang dapat diikuti oleh seluruh siswanya yaitu Olaraga, PMR ( Palang Merah Remaja ), Paskibraka ( Pasukan Pengebar Bendera Pusaka ) , Rohis dan Dram band.

5.      Ketenagaan
Untuk data jumlah tenaga di SMP katika  -II lahat terdiridari :
a)      Kepala sekolah                  : 1
b)      Wakil                                 : 3
c)      Guru                                  : 25
d)     Tenaga tata usaha              : 4
6.      Jumlah siswa
a)      Kelas VII                          : 98      siswa
b)      Kelas VIII                         : 176    siswa
c)      Kelas IX                            : 130    siswa
Jumlah             : 404    siswa  
7.      Karakteristik responden
Rata-rata usia responden dalam penelitian ini adalah 12-16 tahun, yang terdiri dari kelas VII, VIII dan IX. Siswi yang sudah mengalami menarche berjumlah 25 orang dan yang belum berjumlah 29 orang.
( Profil SMP Kartika – II 3 Lahat )
No
Kelas
Menarche
Belum Menarche
Jumlah
1
Kelas VII
2 Orang
15 Orang
17 Orang
2
Kelas VIII
10 Orang
12 Orang
22 Orang
3
Kelas IX
12 Orang
3 Orang
15 Orang
Jumlah Sampel   54 Orang                                         

STRUKTUR ORGANISASI
SMP KARTIKA – II 3 LAHAT















 

KEPALA SEKOLAH


 


     KOMITE                           WAKIL KEPALA SEKOLAH


 

                                                                                    TATA USAHA
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
 Kurikulum        Kesiswaan         Humas            Sarana Perasarana        Bimbingan Konsling                                                                                                                                                      WALI KELAS       
                                                                                                                                                            SISWA          








5.2 Hasil Penelitian
A. Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dengan memberikan kuesioner yang memuat 15 pertanyaan  dalam bentuk benar dan salah mengenai pengertian Menarche dan hal-hal yang harus diperhatikan saat Menarche kepada 60 responden yang ada di SMP Kartika – II 3 lahat diperoleh hasil yang dapat dilihat dari tabel dibawah ini.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri tentang Menarche di SMP Kartika – II 3 lahat Tahun 2011.
No
Pengetahuan Tentang Menarche
( % )
1
Baik
25
46,30
2
Tidak Baik
29
53,70

54
100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa gambaran  pengetahuan 29 responden  (53,70 %) adalah tidak baik dan 25 responden ( 46,30 ) adalah baik.


B.  Sikap
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dengan memberikan kuesioner yang memuat 10 pertanyaan  dalam bentuk sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju mengenai pengertian Menarche dan hal-hal yang harus diperhatikan saat Menarche kepada 54 responden yang ada di SMP Kartika – II 3 Lahat.yang dibagi dalam dua bagian pertanyaan yaitu pertanyaan sikap untuk yang belum mengalami Menarche dan yang sudah mengalami Menarche. diperoleh hasil yang dapat dilihat dari tabel dibawah ini.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Sikap yang belum Menarche di SMP Kartika – II 3 lahat Tahun 2011.
No
Sikap
( % )
1
Favorable
13
44,83
2
Unfavorable
16
55,17

29
100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa gambaran sikap siswi yang belum Menarche adalah 16 responden (55,17 %) tidak mendukung dalam menerima Menarche dan 13 responden ( 44,83 ) mendukung dalam menerima Menarche.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Sikap yang sudah Menarche di SMP Kartika – II 3 lahat Tahun 2011.
No
Sikap
( % )
1
Favorable
12
48,00
2
Unfavorable
13
52,00

25
100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa gambaran sikap siswi yang sudah Menarche adalah 13 responden (52,00 %) tidak mendukung dalam menerima Menarche dan 12 responden ( 48,00) mendukung dalam menerima Menarche.











BAB VI
PEMBAHASAN
           
1.      Pengetahuan
     Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwah pengetahuan remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat yang mempunyai kriteria baik yaitu 25 responden atau 46,30 % dan yang tidak baik yaitu 28 responden atau 53,70 % secara keseluruhan menunjukkan bahwa pengetahuan remaj putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat termasuk dalam kategori tidak baik.

     Pengetahuan ( Knom ledge )adalah hasil tahu dari manusia yang hanya menjawab pertanyaan ’’what ’’ misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya ( Notoadmojo, 2010 ).
     Pengetahuan adalah hasil dari tau dan ini terjadi setelah orang  melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu : penglihatan, penciuman, rasa dan raba ( Notoatmojo, 2010 ).
     Beberapa faktor penyebab besarnya kategori tidak baik pengetahuan dari para remaja putri Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat dikarenakan kurangnya komunikasi, informasi dan pendidikan seks remaja putri dari orang tua.
2.      Sikap
          Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwah sikap remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat yang termasuk dalam kategori :
1.      Sikap remaja putri yang belum mendapatkan menarche kriteria favorable (mendukung ) senang mendapatka menarche yaitu 13 responden atau 44,83 % dan unfavorable ( tidak mendukung ) tidak senang mendapatkan menarche yaitu 16 responden atau 55,17 %.
2.      Sikap remaja putri yang sudah mendapatkan menarche kriteria favorable (mendukung ) senang mendapatka menarche yaitu 13 responden atau 48 % dan unfavorable ( tidak mendukung ) tidak senang mendapatkan menarche yaitu 16 responden atau 52 %.

     Secara keseluruhan siakp remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat masih menunjukkan kriteria Unfavorable. Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu simulasi atau obyek. Manipestasi sikap itu tidak bisa langsung di lihat  tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan tindakan aktivitas, akan tetapi adalah predisposisi tindakan suatu prilaku.


Sikap mempunyai 3 komponen pokok yaitu :
1.      Kepercayaan ( Keyakinan ), ide dan konsep terhadap suatu objek
2.      Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
3.      Kecendrungan untuk bertindak
( Notoadmojo, 2003 ).
Beberapa faktor penyebab besarnya sikap dengan  kriteria unfovareble para remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat karena dipengaruhi adanya pengetahuan dari para remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat yang masih kurang. Untuk itu perlu dilakukan upaya dalam membentuk sikap yang mendukung tentang menarche yaitu dengan meningkatkan pengetahuan mereka tentang menarche.
Remaj putri pertama kali bersentuhan langsung dengan persoalan seksualitas pada saat ia mendapatkan menstruasi yang pertamanya. Untuk itu pentingnya pendidikan seksual pada remaja putri agar lebih mengenal tubuhnya. Bagaimana remaj putri memaknai fungsi tubuh mereka yang berkaitan dengan seksualitas.





 BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
1.      Pengetahuan remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika – II 3 Lahat secara keseluruhan termasuk dalam kategori tidak baik yaitu 46,30 %  karena kurang mendapatkan informasi yang jelas tentang Menarche.
2.      Sikap remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika – II 3 Lahat secara keseluruhan termasuk dalam kategori unfavoreble yang artinya tidak mendukung  terhadap Menarche yaitu 54,43 % karena dipengaruhi pengetahuan yang kurang tentang Menarche.

B.     Saran
Melihat dari hasil penelitian Gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP Kartika – II 3 Lahat maka peneliti mengajukan saran :
1.      Bagi institusi Pendidikan Akper Pemda Lahat
Diharapkan dapat menjadi masukan dalam penerapan penyuluhan mahasiswa pada kelompok remaja dalam kegiatan penelitian.


2.      Bagi SMP Kartika –II 3 Lahat
Hendaklah para guru khususnya guru biologi dapat memberika pelajaran ektra tentang masa pubertas khususnya tentang Menarche dan diharapkan agar bekerja sama dengan orang tua siswa untuk lebih memperhatikan dan mengarahkan para remaja dalam masa perkembangannya agar tidak salah mengartikan banyaknya informasi yang diterima. Karena banyaknya informasi yang diterima remaja tidak semua benar karena butuh pengendaliaan dari orang tua dengan cara lebih banyak meluangkan waktu untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengan remaja sehingga dapat lebih mengetahui, mengerti dan memahami perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan remaja serta serta dapat membantu dalam mencarikan solusi bagi remaja khususnya remaja putri yang mempunyai masalah tentang  Menarche.
3.      Bagi remaja putri di SMP Kartika – II 3 Lahat
Diharapkan remaja putri dapat mencari informasi yang jelas tentang Menarche dan dapat menggunakan media komunikasi yang ada dengan sebaik mungkin, agar tidak salah megartikan suatu informasi.
4.      Bagi peneliti selanjutnya
Bagi para peneliti yang meneliti hal-hal yang berkaitan dengan Menarche, diharapkan dapat mengkaji hal-hal yang belum dimunculkan atau belum dibahas dalam penelitian ini.

KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP
REMAJA PUTRI SMP KARTIKA –II 3
TENTANG MENARCHE
TAHUN 2010








                                      




Oleh :

SINDI FIRMANSYAH
NIM. 2008.0359








PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LAHAT
AKADEMI KEPERAWATAN PEMDA LAHAT
TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULAN
1.1              Latar Belakang
      Jumlah peduduk Indonesia sejak lama diketahui berada diposisi 4 dunia dan 3 di asia. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus ini adalah sebanyak 237.556.363 jiwa yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 % per tahun       ( BPS pusat  2010 ).
     Penduduk Sumatera Selatan sebesar 6,7 juta jiwa dengan penduduk asli Sumatera Selatan terdiri dari kelompok-kelompok etnis dengan berbagai bahasa dan logat bahasa lokal. Kelompok-kelompok etnis dan suku dimaksud adalah Palembang, Ogan komering, Semendo, Pasemah, Gumai, Lintang, Musi rawas, Meranjat, Kayu agung, Ranau, Kisam dan lain-lain (BPS Sumatera Selatan 2010).
     Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut masa pubertas yaitu masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Dan dari berbagai ciri pubertas tersebut, menarche merupakan masalah yang  mendasar  antara pubertas pria dan pubertas wanita. Menarche adalah saat haid / menstruasi yang datang pertama kali yang merupakan sebenarnya puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil.
     Usia remaja putri saat mengalami menstruasi menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukan bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, kedang gizi dan kesehatan umum. ( Sarwono, 2005 ).
     Peristiwa ini merupakan  pertumbuhan dan perkembangan tanda seks skunder wanita itu. Tanda seks skunder wanita meliputi pertumbuhan rambut dengan patrun/pola tetentu pada ketiak, rambut monpeneris (rambut kemaluan ), pertumbuhan buah dada, pertumbuhan distribusi jaringan lemak terutama pada pinggang wanita. Dari sudut perasan kewanitaan suda memperhatikan jasmani dan kecantikan, mulai ingin di puja dan memuja seseorang karena jatuh cinta. Masa pacaran ini yang penting diperhatikan oleh orang tua karena sejak masa mestruasi pertama berarti ada kemungkinan untuk hamil bila berhubungan dengan lawan jenisnya.(Manuaba, 1998 ).
     Sebab itu, sosialisasi program kesehatan reproduksi dikalangan remaja harus lebih pada menanamkan kesadaran akan arti pentingnya kesehatan reproduksi. Mengingat masih banyak keluarga atau orang tua yang tidak memberi cukup ruang kepada anak-anaknya untuk bertanya tentang kespro. Juga agar remaja memiliki pemahaman tentang kesehatan reproduksi dari sisi medis tentunya.
      Menurut Keputusan Mentri Republik Indonesia Nomor 1475/MENKES/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Kesehatan Kabupaten/Kota menargetkan 80 % untuk cakupan pelayanan kesehatan remaja.
Berdasarkan data statistik selama sensus penduduk kabupaten Lahat tahun 2010 didapat secara hitungan manual maka pertumbuhan penduduk dikabupaten lahat naik 7,85 % hal ini setelah dilihat dari data terdahulu, jumlah penduduk kabupaten Lahat tahun 2010 berjumlah 368.380 jiwa. Data tahun 2009 jumlah penduduk kabupaten Lahat sebanyak 341.556 dengan jumlah remaja yang berumur 10-14 tahun sebanyak 15.202 jumlah remaja putri dan 17.335 jiwa penduduk laki-laki serta jumlah remaja yang berumur 15-19 tahun sebanyak 16.575 jiwa penduduk laki-laki dan 13.654  jiwa penduduk perpuan ( BPS Lahat 2009 ).
     Di SMP Kartika-II lahat terdapat 180 remaja putri. Dari hasil prasurvei terhadap 60 siswi SMP Kartika-II sebanyak 50 orang siswi yang belum perna  mendapat informasi tentang menarche ( haid pertama ) dan 10 orang menyatakan sudah pernah mendapatkan informasi tentang menarche oleh ibu mereka.
     Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang bagaiman gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri  tentang menarche di SMP Kartika-II lahat.



1.2              Rumusan Masalah
     Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut: bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP Kartika-II lahat tahun 2010.

1.3              Tujuan Penulisan
1.3.1        Tujuan Umum
     Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang  menarche di SMP Kartika-II lahat.
1.3.2        Tujuan Khusus
a.       Untuk memperoleh gambaran pengetahuan remaja putri tentang menarche di SMP Kartika-II lahat
b.      Untuk memperoleh gambaran sikap remaja putri tentang menarche di SMP Kartika-II lahat
1.4              Manfaat penelitian
1.4.1        Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat khususnya pada mata kuliah keperawatan komunitas, metode penelitian dan reset keperawatan.



1.4.2        Bagi SMP Kartika-II Lahat
Sebagai masukan informasi bagi sekolah mengenai gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche. Sehinggga bisa memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi bagi para murid terutama siswi SMP kartika-II lahat.
1.4.3        Bagi pendidikan
Sebagai umpan balik terhadap penerapan teori sistem serta hasil yang nyata bagi mahasiswa guna meningkatkan mutu pendidikan.













BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA
A. Menarche
1.  Pengertian Menarche
     Menarche didefinisikan sebagai pertama kali menstruasi, yaitu keluarnya cairan darah dari alat kelamin wanita berupa luruhnya lapisan dinding dalam rahim yang banyak mengandung pembuluh darah. Sudah lebih dari setengah abad rata-rata usia menarche mengalami perubahan, dari usia 17 tahun, menjadi 13 tahun, secara normal menstruasi awal terjadi pada usia 11 – 16 tahun (Kartono, 1992).
     Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali pada seorang remaja putri yang baru menginjak dewasa ( Llewellyn-Jones, 2005 )
     Usia remaja putri pada waktu mengalami minarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata terjai pada usia 12,5 tahun. Menarche yang terjadi sebelum usia 8 tahun disebut menstruasi precox ( Sarwono, 2005).
     Seiring dengan perubahan pola hidup saat ini ada kecenderungan anak perempuan mendapatkan mensteruasi pertama kali usianya makin lebih muda. Ada dua faktor yang menyebabkan datangnya mensteruasi lebih dini, yaitu faktor internal dan eksternal. Foktor internal biasanya terjadi karena adanya ketidak seimbangan hormonal yang dibawah sejak lahir. Kondisi ini kemudian dipicu oleh faktor eksternal, seperti makanan ( terutama junkfood ), lingkungan yang moder serta tigkat kemakmuran masyarakat disuatu daerah.
     Kejadian yang  penting dalam pubertas adalah pertumbuhan badan yang cepat, timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder, menarche dan perubahan psikis. Menarche merupakan perbedaan yang mendasar antara pubertas pria dan wanita. Pengaruh peningkatan hormon yang pertama-tama nampak adalah perubahan pada anak yang lebih cepat  terutama pada ekstermitasnya, dan badan lambat laun mendapat bentuk sesuai dengan jenis kelamin.
     Perkembangan dalam bidang rohani adalah penyesuaian diri dalam alam terlindung serta aman menuju ke arah alam berdiri sendiri dan bertanggung jawab, dari alam pikiran egosentrik ke arah alam pikiran yang lebih matang.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Menarche
Menurut Wiknjosastro (2005) faktor-faktor yang mempengaruhi menarche ada 3 yaitu sebagai berikut :
a.       Faktor keturunan
Saat timbulnya menarche juga kebanyakan ditentukan oleh pola dalam keluarga. Hubungan antara usia menarche sesama saudara kandung lebih erat dari pada antara ibu dan anak perempuannya.


b.      Keadaan gizi
Makin baiknya nutrisi mempercepat usia menarche. Beberapa ahli mengatakan anak perempuan dengan jaringan lemak yang lebih banyak, lebih cepat mengalami menarche dari pada anak yang kurus.

c.       Kesehatan umum
Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak gadis seperti penyakit kronis, terutama yang mempengaruhi masukkan makanan dan oksigenasi jaringan dapat memperlambat menarche. Demikian pula obat-obatan.

3.  Haid
     Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai pelepasan endometrium. Lama haid biasanya antara 3-5 hari, ada 1-2 hari yang diikuti darah sedikit-sedikit kemudian ada yang 7-8 hari. Pada setiap wanita lamanya haid itu tidak tetap ( Sarwono, 2005 ).
     Haid bukanlah sebuah penyakit. Haid merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaj putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil ( Llewellyn-Jones, 2005 ).


4.      Fakta-fakta mengenai haid
     Selama dua hari sebelum haid belum dimulai, banyak wanita merasa tidak enak badan. Mereka mengalami pusing-pusing, perut kembung, letih atau mudah tersingung dan mungkin merasakan tekanan daerah pinggul. Pada dasarnya gejalah hilang setelah haid dimulai. Haid biasanya berlangsung 3 sampai 7 hari dan rata-rata jumlah kotoran haid yang keluar adalah 30 ml, meskipun ada yang kurang  dan lebih. Kehilangan darah atau cairan lebih dari 80 ml merupakan hal tidak wajar. Biasanya disertai kehilangan massa darah. Haid biasanya terjadi setiap 22 atau 35 hari, tapi setiap wanita mempunyai pola masing-masing.
( Llewellyn-Jones, 2005 ).

5.  Siklus Haid
     Siklus haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari ditambah atau dikurang 2-3 hari ( Sarwono, 2005 )  
     Pada dasarnya siklus haid pada setiap wanita bervariasi, karena kadar hormon estrogen yang diproduksi oleh stiap tubuh wanita berbeda. Menarche yang diikuti haid yang tidak teratur karena folikel Graaf belum melepaskan ovum disebut ovulasi. Tetapi lamanya sekitar 4 sampai 6 tahun sejak menarche, pola haid suda terbentuk dengan siklus haid yang lebih teratur ( Llewellyn-Jones, 2005 ).

6.      Fase-fase dalam siklus haid adalah sebagai berikut
a. Fase Menstruasi
Berlangsung sekitar 3-4 hari. Dalam fase ini endometrium dilepaskan dari dindig uterus disertai perdarahan. Hanya yang tertinggal stratum basele. Darah  haid mengandug darah vena dan arteri dengan sel-sel darah merah dalam hemolisis atau aglutinasi , sel-sel epitel dan stroma yang mengalami disentegrasi dan otolisis, dan sekret dari uterus, serveks, dan kelenjar-kelenjar vulva.
b. Fase regenerasi 
Fase ini berlangsung hari ke empat menstruasi, luka bekas pelepasan endometrium sebagian besar berangsur-angsur sembuh dan ditutup kembali oleh epitel selaput lendir endometrium. Sel basalis mulai berkembang , mengalami mitosis dan kelenjar endometrium mulai tumbuh kembali.
c. Fase proliferasi
Berlangsung sejak hari ke 5 sampai 14. Pada fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal  3,5 mm.
Dalam fase regenerasi sampai proliferasi, endometrium dipengaruhi oleh hormon estrogen dan sejak ovulasi korvus luteum mengeluarkan hormon estrogin dan  progesteron yang mempengaruhi terjadinya fase sekresi.
d. Fase sekresi 
               Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke 14 sampai hari ke 28. dalam fase ini tebal endometrium tetap, hanya kelenjarnya lebih berkelok-kelok dean mengeluarkan sekret. Sel endometrium mengandung banyak glikogen, protein, air dan mineral untuk persiapan menerima inplantasi dalam memberikan nutrisi pada zigot ( Sarwono, 2007 ).

B. Remaja
1. Pengertian Remaja
     Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, diawali dengan masa puber, yaitu : proses perubahan fisik yang ditandai dengan kematangan seksual, kognisi, dan psikososial yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya ( Papila, 2001 ).
     Batasan usia remaja adalah usia 12-23 tahun. Berdasarkan tingkatan sekolah, siswa SLTP berusia sekitar 12-15 tahun disebut remaja awal. Siswa SMU berusia sekitar 15-18 tahun disebut remaja menengah. Mahasiswa berusia sekitar 18-23 tahun disebut remaja akhir ( Ali Samil, 2000 ).
     Menurut kesepakatam Persatuan Bangsa-Bangsa ( PBB), pada tahun 1974, WHO memberikan definisi remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam konsep tersebut ditemukan 3 kriteria, yaitu : biologik, psikologik, da sosial ekonomi, sehingga secara bertahap berbunyi :
1.      Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai ia mencapai kematangan seksual.
2.      individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak sampai dewasa.
3.      Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yag relatif lebih mandiri.
     Jadi, remaja merupakan anak tanggungan karena remaja sudah tidak lagi anak-anak tetapi belum bisa disebut sebagai orang dewasa. Pada masa usia ini remaja mengalami peralihan dari mas anak-anak ke masa dewasa.
     Remaja juga disebut sebagai generasi muda penerus bangsa. Potensi remaja sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Remaja adalah calon pemimpin, penerus dan pengelola bangsa. Jika remaja sudah tidak peduli dengan masa depannya, maka negaranya bisa hancur ( Sukoharjo, 2000).
     Terjadinya pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja, termasuk pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan, sehingga mampu melangsungkan fungsi reproduksi. Perubahan itu ditandai dengan munculnya tanda-tanda sebagai berikut: tanda-tanda seks primer, yaitu yang berhubungan langsung dengan organ seks yaitu terjadinya haid pada remaja puteri (menarche) dan terjadinya mimpi basah pada remaja laki-laki (Depkes RI, 2001).
     Proses perubahan kejiwaan berlangsung lebih lambat dibandingkan perubahan fisik yang meliputi :
1.      Perubahan emosi, sehingga remaja menjadi sensitif (mudah menangis, cemas, frustasi dan tertawa; agresif dan mudah bereaksi terhadap rangsangan luar yang berpengaruh, sehingga misalnya mudah berkelahi.
2.      Perkembangan intelegensia, sehingga remaja menjadi: mampu berpikir abstrak, senang memberi kritik, ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku ingin mencoba-coba (Depkes RI, 2001).
2. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja
Pada setiap tahapan usia mempunyai tujuan untuk mencapai suatu kepandaian, keterampilan, pengetahuan, sikap, dan fungsi tertentu, sesuai dengan kebutuhan pribadi yang timbul dari dalam dirinya sendiri dan tuntunan yang datang dari masyarakat sekitarnya.
Pada remaja, tugas perkembangan itu, menurut Robert Havighurst adalah :
1.      Menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkan tubuhnya secara efiktif
2.      Menerima hubungan yang lebih matang dari teman yang sebaya dari jenis kelamin yang mana pun.
3.      Menerima peran jenis kelamin masing-masing ( laki-laki dan perempuan )
4.      Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya.
5.      Mempersiapkan karier ekonomi
6.      Mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga
7.      Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
8.      Mencapai sistem nilai dan etika tetentu sebagai pedoman tingkah lakunya.

C.  Pengetahuan
1.      Pengertian pengetahuan
     Pengetahuan ( knowledge ) adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan ”what” , misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya. ( Notoatmojo, 2010 ).
     Pengetahuan adalah hasil dari tau dan ini terjadi setelah orang  melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu : penglihatan, penciuman, rasa dan raba ( Notoatmojo, 2010 ).

2. Tingkatan Pegetahuan
      Pengetahuan mempunyai tingkatan yaitu
a.      Tahu ( know )
Yaitu kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya adalah mengingat kembali ( recall ) terhadap suatu yang spesifik dari suatu bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b.      Memahami (comprehetion )
Yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengenterpentasikan materi tersebut secara benar.
c.       Menerapkan ( application )
Yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu kondisi atau situasi yang riil ( sebenarnya )
d.      Analisis ( analysis )
Yaitu kemampuan untuk menyebarkan materi suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu dengan yang lainnya.
e.       Sintesa ( Synthesis )
Yaitu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f.       Evaluasi ( evaluation )
Yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada, misalnya dapat mebandingkan, menaggapi pendapat dan menafsirkan sebab-sebab suatu kejadian ( Notoatmojo, 2003). 

D. Sikap
1.      Pengertian Sikap
     Sikap reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap sesuatu stimulasi atau obyek. Manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari prilaku yang tertutup. Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif  tertentu ( Notoadmojo, 2007 )

2. Komponen Sikap
     Adapun  komponen yang saling bersama-sama membentuk sikap yang utuh       ( total attitud ) yaitu :
a.             Kognitif  ( cognitive )
Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat  diharapkan  dari obyek tertentu.
b.            Afektif ( affictive )
Menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu.


c.             Konatif (conative )
Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri sesorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi (Notoatmojo, 1997 ).

3. Tingkatan sikap
Berbagai tingkatan dalam pembentukan sikap yaitu :
a.       Menerima ( receiving )
Pada tingkat ini, seseorang sadar akan kehadiran sesuatu dan orang tersebut akan menjelaskan sikap seperti mendengarkan, menghindari, atau menerima keadaan tersebut.
b.      Merespon ( responding )
Yaitu memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
c.                   Menghargai ( valuving )
Sikap individu mengajak orang lain  untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
d.      Bertanggung Jawab (  Responsible )
Rasa tanggung jawab dan siap menangung segalah resiko atas segala sesuatu yang telah dipilihnya (Notoatmojo, 2007 ).

            E.  Hasil Penelitian Terdahulu
Berdasakan penelitian terdahulu oleh Addy A 25 agustus 2009, tentang Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang Menarche didapat  : Gambaran pengetahuan remaja putri tentang menarche secara keseluruhan masuk dalam kategori tidak baik yaitu 56,91 % disebabkan kurang mendapat informasi yang jelas tentang menarche  sedangkan gambaran sikap termasuk dalam kategori tidak mendukung yaitu 52,29 % karena dipengaruhi oleh pengetahuan yang kurang.

   























BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep
     Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan ( Notoadmojo, 2005 ). Variabel dependen ( Menarche ) maupun variabel independen ( pengetahuan dan sikap remaja putri ) melalui penelitian yang akan dilakukan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan dibawah ini.

Kerangka Konsep Penelitian
            Variabel Independen                                    Variabel Dependen


 

         Pengetahuan remaja Putri








 

                                                                                        Menarche
               Sikap Remaja Putri                                                                                                 
  
                                                  
3.2 Definisi Oprasional
3.2.1 Variabel Dipenden
                Menarche
a.       Pengertian                   : Haid yang datang pertama kali pada remaja
b.      Cara ukur                    : Wawancara
c.       Alat ukur                     : Kuesioner
d.      Hasil Ukur                   : - Pernah menarche
  - Tidak pernah menarche
e.       Skala ukur                   : Ordinal

3.2.2 Variabel independen
   1. Pengetahuan
a.   Pengertian       : Kemampuan responden dalam menjawab kuesioner yang       diberikan
b.      Cara Ukur       : Wawancara
a.       Alat Ukur        : Kuesioner
b.      Hasil Ukur       : 1. Baik ( Jika 75 % jawaban benar dari 15 pertanyaan )
     3. Kurang ( Jika < 75 % jawaban benar dari 15                    Pertanyaan)
c.       Skala               : Ordinal

2. Sikap
a.       Pengertian       : Prilaku dalam menerima menarche
b.      Cara Ukur       : Angket
c.       Alat Ukur        : Kuesioner
d.      Hasil Ukur       : 1. Positif ( Jika responden menjawab ya > 6 dari 10
      Pertanyaan )
                                                  2. Negatif (Jika responden menjawab tidak ≤ 6 dari 10
                                    Pertanyaan )
e.       Skala               : Ordinal

3. Remaja putri
a.       Pengertian       : Usia beranjak dewasa pada anak perempuan  ( umur 12-17 tahun )
b.      Hasil Ukur       : - Pernah menarche
  - Tidak pernah menarche




  


BAB IV
METODE  PENELITIAN

4.1   Rancangan penelitian
     Rancangan penelitian adalah pola rencana kegiatan penelitian yang disusun sedemikian rupa untuk menjawab penelitian. Rencana penelitian yang digunakan adalah penelitiam diskriptif dimana penelitian hanya untuk mengetahui gambaran tentang tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri terhadap menarche secara obyektif tanpa menganalisis lebih lanjut.
     Penelitian diskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif.            ( Notoatmojo, 2005 )

4.2   Populasi Penelitian
     Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau keseluruhan objek yang diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama ( Notoatmojo, 2003 ).
     Populasi adalah subyek yang memenuhi keriteria yang telah ditetapkan
 ( Nursalam, 2003 ).Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas VII, VIII dan IX  SMP Kartika –II 3 lahat yang memiliki rentang usia antara 12-17 tahun, dimana rentang usia ini menurut Ali Salim masuk kedalam remaja awal, yang berjumlah 120 orang siswi dengan rincian sebagai berikut :

a.       Siswi kelas VII ada 42 orang
b.      Siswi kelas VIII ada 38 Orang
c.       Siswi kelas I X ada 40 Orang

4.3   Sample Penelitian
     Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yag diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo, 2005 ). Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri atau siswi SMP Kartika II 3 lahat kelas VII, VIII dan IX pada tahun 2011.
                           N
         n =
                      1 + N ( d² )
                         
                             120
n = 
                     1 + 120 ( 0,1 ² )
                        
                         120
n =     
    2,2

         n =   54 orang



     Keterangan          :
         n = Jumlah Sampel
         N = Jumlah Populasi
         d =  Tingkat Signifikasi ( d = 0,1 )
     Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling, pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel secara quota atau jatah. Tehnik sampling ini digunakan pertama-tama menetapkan berapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quantum ( jatah ). Kemudian jumlah atau quantum itulah yang dijadikan dasar untuk pengambilan unit sampel yang digunakan ( Notoatmojo, 2005 ).

4.4 Lokasi dan Waktu Penelitian
4.4.1 Lokasi Penelitian
                    Lokasi penelitian dilaksanakan di SMP Kartika II 3 Lahat
4.4.2 Waktu Penelitian
                        Penelitian dilakukan pada bulan april sampai mei 2011.
  



 
4.5 Tehnik dan Instrumen Pengumpula Data
4.5.1 Tehnik Pengumpulan Data
1.      Data Primer
     Data sikap dan pengetahuan siswi melalui wawancara menggunakan daftar pertanyaan berupa kuesioner.
2.      Data sekunder
     Diperoleh melalui Dinas Pendidikan Kabupaten, Badan Pusat Statistik  Kabupaten dan SMP Kartika -II 3 lahat.
    
4.5.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data dengan kuesioner sebagai pedoman wawancara.

4.6 Tehnik Pengolahan Data
Setelah terkumpulnya data melalui kuesioner, maka dilakukan tahap pengolahan data yang melalui beberapa tahapan sebagai berikut. 
a.       Pengeditan  ( Editing )
Pada tahap ini, penulis melakukan penilaian terhadap data  yang diperoleh kemudian diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam pengisiannya.


b.      Pengkodean ( Coding )
Setelah diakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudakan dalam menganalisis data.
c.       Skor ( Scorsing )
Pada tahap ini, untuk variable pengetahuan, hasil ukurnya jika jawaban benar diberi nilai 1 dan jika salah nilainya 0. untuk varibel sikap untuk kategori favorable hasil ukurnya bila SS = 4, S = 3, TS = 2 dan STS = 1. Sedangkan pada unfavorable bila SS = 1, S = 2, TS = 3 dan STS = 4.
d.      Pengolahan  ( Tabulating )
Setelah dilakukan pengkodean dan scorsing pada semua data selanjutnya data diolah secara manual.

4.7   Tehnik Analisis Data
Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat, dimana secara menyeluruh data yang sejenis atau mendeteksi digabungkan, yang kemudian dibuat table distribusi frekuinsi untuk dipresentasikan.

           




BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1  Gambaran umum tempat penelitian
1.      Lokasi
SMP kartika –II 3 lahat beralamatkan Jl. Kapten Zen Ali pasar lama lahat,  diatas tanah berukuran ± 1 hektar.
2.      Berdiri
a.       Awal tahun 1986
1.      Jumlah lokal belajar                                   : 11 ruang
2.      Jumlah kantor kepala sekolah                   : 1   ruang
3.      Jumlah kantor wakil kepala sekolah          : 2   ruang
4.      Jumla kantor guru                                     : 1   ruang
5.      Jumlah kantor tata usaha                           : 1   ruang
6.      Jumlah wc kepalah sekolah                       : 1   ruang
7.      Jumlah wc tata usaha                                : 1   ruang
8.      Jumlah wc siswa                                       : 3   ruang
9.      Jumlah laboratorium                                  : 1   ruang
10.  Jumlah perpustakaan                                 : 1   ruang


b.      Tambahan bagunan
-  Tahun 2009 -2010 lokal belajar                   : 2   kelas

3.      Nama
a.       Tahun 1986-2000                          : SMP Candra Kirana
b.      Tahun  2000- sekarang                  : SMP Kartika – II 3 Lahat

4.      Visi dan Misi SMP Kartika –II 3 lahat
Visi      : Terwujudnya generasi muda yang unggul dalam prestasi, iptek dan Imtaq.
Misi     :
1.      Peningkatkan kegiatan pembelajaran dan bimbingan secara efiktif
2.      Mampu bersaing masuk sekolah kejenjang yang lebih tinggi
3.      Berprestasi di bidang olaraga dan kesenian
4.      Meningkatkan seni baca tulis Al-Qur’an
5.      Menumbuhkan bakat, kreatifitas dan motivasi siswa
6.      Membudayakan disiplin kebersihan, sopan santun dan berbudi luhur.


     Selain memberikan materi pelajaran sesuai kurikulum, SMP kartika – II lahat juga mengadakan kegiatan ektrakulikuler yang dapat diikuti oleh seluruh siswanya yaitu Olaraga, PMR ( Palang Merah Remaja ), Paskibraka ( Pasukan Pengebar Bendera Pusaka ) , Rohis dan Dram band.

5.      Ketenagaan
Untuk data jumlah tenaga di SMP katika  -II lahat terdiridari :
a)      Kepala sekolah                  : 1
b)      Wakil                                 : 3
c)      Guru                                  : 25
d)     Tenaga tata usaha              : 4
6.      Jumlah siswa
a)      Kelas VII                          : 98      siswa
b)      Kelas VIII                         : 176    siswa
c)      Kelas IX                            : 130    siswa
Jumlah             : 404    siswa  
7.      Karakteristik responden
Rata-rata usia responden dalam penelitian ini adalah 12-16 tahun, yang terdiri dari kelas VII, VIII dan IX. Siswi yang sudah mengalami menarche berjumlah 25 orang dan yang belum berjumlah 29 orang.
( Profil SMP Kartika – II 3 Lahat )
No
Kelas
Menarche
Belum Menarche
Jumlah
1
Kelas VII
2 Orang
15 Orang
17 Orang
2
Kelas VIII
10 Orang
12 Orang
22 Orang
3
Kelas IX
12 Orang
3 Orang
15 Orang
Jumlah Sampel   54 Orang                                         

STRUKTUR ORGANISASI
SMP KARTIKA – II 3 LAHAT















 

KEPALA SEKOLAH


 


     KOMITE                           WAKIL KEPALA SEKOLAH


 

                                                                                    TATA USAHA
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
 Kurikulum        Kesiswaan         Humas            Sarana Perasarana        Bimbingan Konsling                                                                                                                                                      WALI KELAS       
                                                                                                                                                            SISWA          








5.2 Hasil Penelitian
A. Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dengan memberikan kuesioner yang memuat 15 pertanyaan  dalam bentuk benar dan salah mengenai pengertian Menarche dan hal-hal yang harus diperhatikan saat Menarche kepada 60 responden yang ada di SMP Kartika – II 3 lahat diperoleh hasil yang dapat dilihat dari tabel dibawah ini.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri tentang Menarche di SMP Kartika – II 3 lahat Tahun 2011.
No
Pengetahuan Tentang Menarche
( % )
1
Baik
25
46,30
2
Tidak Baik
29
53,70

54
100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa gambaran  pengetahuan 29 responden  (53,70 %) adalah tidak baik dan 25 responden ( 46,30 ) adalah baik.


B.  Sikap
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dengan memberikan kuesioner yang memuat 10 pertanyaan  dalam bentuk sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju mengenai pengertian Menarche dan hal-hal yang harus diperhatikan saat Menarche kepada 54 responden yang ada di SMP Kartika – II 3 Lahat.yang dibagi dalam dua bagian pertanyaan yaitu pertanyaan sikap untuk yang belum mengalami Menarche dan yang sudah mengalami Menarche. diperoleh hasil yang dapat dilihat dari tabel dibawah ini.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Sikap yang belum Menarche di SMP Kartika – II 3 lahat Tahun 2011.
No
Sikap
( % )
1
Favorable
13
44,83
2
Unfavorable
16
55,17

29
100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa gambaran sikap siswi yang belum Menarche adalah 16 responden (55,17 %) tidak mendukung dalam menerima Menarche dan 13 responden ( 44,83 ) mendukung dalam menerima Menarche.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Sikap yang sudah Menarche di SMP Kartika – II 3 lahat Tahun 2011.
No
Sikap
( % )
1
Favorable
12
48,00
2
Unfavorable
13
52,00

25
100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa gambaran sikap siswi yang sudah Menarche adalah 13 responden (52,00 %) tidak mendukung dalam menerima Menarche dan 12 responden ( 48,00) mendukung dalam menerima Menarche.











BAB VI
PEMBAHASAN
           
1.      Pengetahuan
     Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwah pengetahuan remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat yang mempunyai kriteria baik yaitu 25 responden atau 46,30 % dan yang tidak baik yaitu 28 responden atau 53,70 % secara keseluruhan menunjukkan bahwa pengetahuan remaj putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat termasuk dalam kategori tidak baik.

     Pengetahuan ( Knom ledge )adalah hasil tahu dari manusia yang hanya menjawab pertanyaan ’’what ’’ misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya ( Notoadmojo, 2010 ).
     Pengetahuan adalah hasil dari tau dan ini terjadi setelah orang  melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu : penglihatan, penciuman, rasa dan raba ( Notoatmojo, 2010 ).
     Beberapa faktor penyebab besarnya kategori tidak baik pengetahuan dari para remaja putri Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat dikarenakan kurangnya komunikasi, informasi dan pendidikan seks remaja putri dari orang tua.
2.      Sikap
          Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwah sikap remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat yang termasuk dalam kategori :
1.      Sikap remaja putri yang belum mendapatkan menarche kriteria favorable (mendukung ) senang mendapatka menarche yaitu 13 responden atau 44,83 % dan unfavorable ( tidak mendukung ) tidak senang mendapatkan menarche yaitu 16 responden atau 55,17 %.
2.      Sikap remaja putri yang sudah mendapatkan menarche kriteria favorable (mendukung ) senang mendapatka menarche yaitu 13 responden atau 48 % dan unfavorable ( tidak mendukung ) tidak senang mendapatkan menarche yaitu 16 responden atau 52 %.

     Secara keseluruhan siakp remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat masih menunjukkan kriteria Unfavorable. Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu simulasi atau obyek. Manipestasi sikap itu tidak bisa langsung di lihat  tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan tindakan aktivitas, akan tetapi adalah predisposisi tindakan suatu prilaku.


Sikap mempunyai 3 komponen pokok yaitu :
1.      Kepercayaan ( Keyakinan ), ide dan konsep terhadap suatu objek
2.      Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
3.      Kecendrungan untuk bertindak
( Notoadmojo, 2003 ).
Beberapa faktor penyebab besarnya sikap dengan  kriteria unfovareble para remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat karena dipengaruhi adanya pengetahuan dari para remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat yang masih kurang. Untuk itu perlu dilakukan upaya dalam membentuk sikap yang mendukung tentang menarche yaitu dengan meningkatkan pengetahuan mereka tentang menarche.
Remaj putri pertama kali bersentuhan langsung dengan persoalan seksualitas pada saat ia mendapatkan menstruasi yang pertamanya. Untuk itu pentingnya pendidikan seksual pada remaja putri agar lebih mengenal tubuhnya. Bagaimana remaj putri memaknai fungsi tubuh mereka yang berkaitan dengan seksualitas.





 BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
1.      Pengetahuan remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika – II 3 Lahat secara keseluruhan termasuk dalam kategori tidak baik yaitu 46,30 %  karena kurang mendapatkan informasi yang jelas tentang Menarche.
2.      Sikap remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika – II 3 Lahat secara keseluruhan termasuk dalam kategori unfavoreble yang artinya tidak mendukung  terhadap Menarche yaitu 54,43 % karena dipengaruhi pengetahuan yang kurang tentang Menarche.

B.     Saran
Melihat dari hasil penelitian Gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP Kartika – II 3 Lahat maka peneliti mengajukan saran :
1.      Bagi institusi Pendidikan Akper Pemda Lahat
Diharapkan dapat menjadi masukan dalam penerapan penyuluhan mahasiswa pada kelompok remaja dalam kegiatan penelitian.


2.      Bagi SMP Kartika –II 3 Lahat
Hendaklah para guru khususnya guru biologi dapat memberika pelajaran ektra tentang masa pubertas khususnya tentang Menarche dan diharapkan agar bekerja sama dengan orang tua siswa untuk lebih memperhatikan dan mengarahkan para remaja dalam masa perkembangannya agar tidak salah mengartikan banyaknya informasi yang diterima. Karena banyaknya informasi yang diterima remaja tidak semua benar karena butuh pengendaliaan dari orang tua dengan cara lebih banyak meluangkan waktu untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengan remaja sehingga dapat lebih mengetahui, mengerti dan memahami perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan remaja serta serta dapat membantu dalam mencarikan solusi bagi remaja khususnya remaja putri yang mempunyai masalah tentang  Menarche.
3.      Bagi remaja putri di SMP Kartika – II 3 Lahat
Diharapkan remaja putri dapat mencari informasi yang jelas tentang Menarche dan dapat menggunakan media komunikasi yang ada dengan sebaik mungkin, agar tidak salah megartikan suatu informasi.
4.      Bagi peneliti selanjutnya
Bagi para peneliti yang meneliti hal-hal yang berkaitan dengan Menarche, diharapkan dapat mengkaji hal-hal yang belum dimunculkan atau belum dibahas dalam penelitian ini.

KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP
REMAJA PUTRI SMP KARTIKA –II 3
TENTANG MENARCHE
TAHUN 2010








                                      




Oleh :

SINDI FIRMANSYAH
NIM. 2008.0359








PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LAHAT
AKADEMI KEPERAWATAN PEMDA LAHAT
TAHUN 2010


BAB I
PENDAHULAN
1.1              Latar Belakang
      Jumlah peduduk Indonesia sejak lama diketahui berada diposisi 4 dunia dan 3 di asia. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus ini adalah sebanyak 237.556.363 jiwa yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 % per tahun       ( BPS pusat  2010 ).
     Penduduk Sumatera Selatan sebesar 6,7 juta jiwa dengan penduduk asli Sumatera Selatan terdiri dari kelompok-kelompok etnis dengan berbagai bahasa dan logat bahasa lokal. Kelompok-kelompok etnis dan suku dimaksud adalah Palembang, Ogan komering, Semendo, Pasemah, Gumai, Lintang, Musi rawas, Meranjat, Kayu agung, Ranau, Kisam dan lain-lain (BPS Sumatera Selatan 2010).
     Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut masa pubertas yaitu masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Dan dari berbagai ciri pubertas tersebut, menarche merupakan masalah yang  mendasar  antara pubertas pria dan pubertas wanita. Menarche adalah saat haid / menstruasi yang datang pertama kali yang merupakan sebenarnya puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil.
     Usia remaja putri saat mengalami menstruasi menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukan bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, kedang gizi dan kesehatan umum. ( Sarwono, 2005 ).
     Peristiwa ini merupakan  pertumbuhan dan perkembangan tanda seks skunder wanita itu. Tanda seks skunder wanita meliputi pertumbuhan rambut dengan patrun/pola tetentu pada ketiak, rambut monpeneris (rambut kemaluan ), pertumbuhan buah dada, pertumbuhan distribusi jaringan lemak terutama pada pinggang wanita. Dari sudut perasan kewanitaan suda memperhatikan jasmani dan kecantikan, mulai ingin di puja dan memuja seseorang karena jatuh cinta. Masa pacaran ini yang penting diperhatikan oleh orang tua karena sejak masa mestruasi pertama berarti ada kemungkinan untuk hamil bila berhubungan dengan lawan jenisnya.(Manuaba, 1998 ).
     Sebab itu, sosialisasi program kesehatan reproduksi dikalangan remaja harus lebih pada menanamkan kesadaran akan arti pentingnya kesehatan reproduksi. Mengingat masih banyak keluarga atau orang tua yang tidak memberi cukup ruang kepada anak-anaknya untuk bertanya tentang kespro. Juga agar remaja memiliki pemahaman tentang kesehatan reproduksi dari sisi medis tentunya.
      Menurut Keputusan Mentri Republik Indonesia Nomor 1475/MENKES/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Kesehatan Kabupaten/Kota menargetkan 80 % untuk cakupan pelayanan kesehatan remaja.
Berdasarkan data statistik selama sensus penduduk kabupaten Lahat tahun 2010 didapat secara hitungan manual maka pertumbuhan penduduk dikabupaten lahat naik 7,85 % hal ini setelah dilihat dari data terdahulu, jumlah penduduk kabupaten Lahat tahun 2010 berjumlah 368.380 jiwa. Data tahun 2009 jumlah penduduk kabupaten Lahat sebanyak 341.556 dengan jumlah remaja yang berumur 10-14 tahun sebanyak 15.202 jumlah remaja putri dan 17.335 jiwa penduduk laki-laki serta jumlah remaja yang berumur 15-19 tahun sebanyak 16.575 jiwa penduduk laki-laki dan 13.654  jiwa penduduk perpuan ( BPS Lahat 2009 ).
     Di SMP Kartika-II lahat terdapat 180 remaja putri. Dari hasil prasurvei terhadap 60 siswi SMP Kartika-II sebanyak 50 orang siswi yang belum perna  mendapat informasi tentang menarche ( haid pertama ) dan 10 orang menyatakan sudah pernah mendapatkan informasi tentang menarche oleh ibu mereka.
     Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang bagaiman gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri  tentang menarche di SMP Kartika-II lahat.



1.2              Rumusan Masalah
     Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut: bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP Kartika-II lahat tahun 2010.

1.3              Tujuan Penulisan
1.3.1        Tujuan Umum
     Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang  menarche di SMP Kartika-II lahat.
1.3.2        Tujuan Khusus
a.       Untuk memperoleh gambaran pengetahuan remaja putri tentang menarche di SMP Kartika-II lahat
b.      Untuk memperoleh gambaran sikap remaja putri tentang menarche di SMP Kartika-II lahat
1.4              Manfaat penelitian
1.4.1        Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat khususnya pada mata kuliah keperawatan komunitas, metode penelitian dan reset keperawatan.



1.4.2        Bagi SMP Kartika-II Lahat
Sebagai masukan informasi bagi sekolah mengenai gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche. Sehinggga bisa memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi bagi para murid terutama siswi SMP kartika-II lahat.
1.4.3        Bagi pendidikan
Sebagai umpan balik terhadap penerapan teori sistem serta hasil yang nyata bagi mahasiswa guna meningkatkan mutu pendidikan.













BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA
A. Menarche
1.  Pengertian Menarche
     Menarche didefinisikan sebagai pertama kali menstruasi, yaitu keluarnya cairan darah dari alat kelamin wanita berupa luruhnya lapisan dinding dalam rahim yang banyak mengandung pembuluh darah. Sudah lebih dari setengah abad rata-rata usia menarche mengalami perubahan, dari usia 17 tahun, menjadi 13 tahun, secara normal menstruasi awal terjadi pada usia 11 – 16 tahun (Kartono, 1992).
     Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali pada seorang remaja putri yang baru menginjak dewasa ( Llewellyn-Jones, 2005 )
     Usia remaja putri pada waktu mengalami minarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata terjai pada usia 12,5 tahun. Menarche yang terjadi sebelum usia 8 tahun disebut menstruasi precox ( Sarwono, 2005).
     Seiring dengan perubahan pola hidup saat ini ada kecenderungan anak perempuan mendapatkan mensteruasi pertama kali usianya makin lebih muda. Ada dua faktor yang menyebabkan datangnya mensteruasi lebih dini, yaitu faktor internal dan eksternal. Foktor internal biasanya terjadi karena adanya ketidak seimbangan hormonal yang dibawah sejak lahir. Kondisi ini kemudian dipicu oleh faktor eksternal, seperti makanan ( terutama junkfood ), lingkungan yang moder serta tigkat kemakmuran masyarakat disuatu daerah.
     Kejadian yang  penting dalam pubertas adalah pertumbuhan badan yang cepat, timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder, menarche dan perubahan psikis. Menarche merupakan perbedaan yang mendasar antara pubertas pria dan wanita. Pengaruh peningkatan hormon yang pertama-tama nampak adalah perubahan pada anak yang lebih cepat  terutama pada ekstermitasnya, dan badan lambat laun mendapat bentuk sesuai dengan jenis kelamin.
     Perkembangan dalam bidang rohani adalah penyesuaian diri dalam alam terlindung serta aman menuju ke arah alam berdiri sendiri dan bertanggung jawab, dari alam pikiran egosentrik ke arah alam pikiran yang lebih matang.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Menarche
Menurut Wiknjosastro (2005) faktor-faktor yang mempengaruhi menarche ada 3 yaitu sebagai berikut :
a.       Faktor keturunan
Saat timbulnya menarche juga kebanyakan ditentukan oleh pola dalam keluarga. Hubungan antara usia menarche sesama saudara kandung lebih erat dari pada antara ibu dan anak perempuannya.


b.      Keadaan gizi
Makin baiknya nutrisi mempercepat usia menarche. Beberapa ahli mengatakan anak perempuan dengan jaringan lemak yang lebih banyak, lebih cepat mengalami menarche dari pada anak yang kurus.

c.       Kesehatan umum
Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak gadis seperti penyakit kronis, terutama yang mempengaruhi masukkan makanan dan oksigenasi jaringan dapat memperlambat menarche. Demikian pula obat-obatan.

3.  Haid
     Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai pelepasan endometrium. Lama haid biasanya antara 3-5 hari, ada 1-2 hari yang diikuti darah sedikit-sedikit kemudian ada yang 7-8 hari. Pada setiap wanita lamanya haid itu tidak tetap ( Sarwono, 2005 ).
     Haid bukanlah sebuah penyakit. Haid merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaj putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil ( Llewellyn-Jones, 2005 ).


4.      Fakta-fakta mengenai haid
     Selama dua hari sebelum haid belum dimulai, banyak wanita merasa tidak enak badan. Mereka mengalami pusing-pusing, perut kembung, letih atau mudah tersingung dan mungkin merasakan tekanan daerah pinggul. Pada dasarnya gejalah hilang setelah haid dimulai. Haid biasanya berlangsung 3 sampai 7 hari dan rata-rata jumlah kotoran haid yang keluar adalah 30 ml, meskipun ada yang kurang  dan lebih. Kehilangan darah atau cairan lebih dari 80 ml merupakan hal tidak wajar. Biasanya disertai kehilangan massa darah. Haid biasanya terjadi setiap 22 atau 35 hari, tapi setiap wanita mempunyai pola masing-masing.
( Llewellyn-Jones, 2005 ).

5.  Siklus Haid
     Siklus haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari ditambah atau dikurang 2-3 hari ( Sarwono, 2005 )  
     Pada dasarnya siklus haid pada setiap wanita bervariasi, karena kadar hormon estrogen yang diproduksi oleh stiap tubuh wanita berbeda. Menarche yang diikuti haid yang tidak teratur karena folikel Graaf belum melepaskan ovum disebut ovulasi. Tetapi lamanya sekitar 4 sampai 6 tahun sejak menarche, pola haid suda terbentuk dengan siklus haid yang lebih teratur ( Llewellyn-Jones, 2005 ).

6.      Fase-fase dalam siklus haid adalah sebagai berikut
a. Fase Menstruasi
Berlangsung sekitar 3-4 hari. Dalam fase ini endometrium dilepaskan dari dindig uterus disertai perdarahan. Hanya yang tertinggal stratum basele. Darah  haid mengandug darah vena dan arteri dengan sel-sel darah merah dalam hemolisis atau aglutinasi , sel-sel epitel dan stroma yang mengalami disentegrasi dan otolisis, dan sekret dari uterus, serveks, dan kelenjar-kelenjar vulva.
b. Fase regenerasi 
Fase ini berlangsung hari ke empat menstruasi, luka bekas pelepasan endometrium sebagian besar berangsur-angsur sembuh dan ditutup kembali oleh epitel selaput lendir endometrium. Sel basalis mulai berkembang , mengalami mitosis dan kelenjar endometrium mulai tumbuh kembali.
c. Fase proliferasi
Berlangsung sejak hari ke 5 sampai 14. Pada fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal  3,5 mm.
Dalam fase regenerasi sampai proliferasi, endometrium dipengaruhi oleh hormon estrogen dan sejak ovulasi korvus luteum mengeluarkan hormon estrogin dan  progesteron yang mempengaruhi terjadinya fase sekresi.
d. Fase sekresi 
               Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke 14 sampai hari ke 28. dalam fase ini tebal endometrium tetap, hanya kelenjarnya lebih berkelok-kelok dean mengeluarkan sekret. Sel endometrium mengandung banyak glikogen, protein, air dan mineral untuk persiapan menerima inplantasi dalam memberikan nutrisi pada zigot ( Sarwono, 2007 ).

B. Remaja
1. Pengertian Remaja
     Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, diawali dengan masa puber, yaitu : proses perubahan fisik yang ditandai dengan kematangan seksual, kognisi, dan psikososial yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya ( Papila, 2001 ).
     Batasan usia remaja adalah usia 12-23 tahun. Berdasarkan tingkatan sekolah, siswa SLTP berusia sekitar 12-15 tahun disebut remaja awal. Siswa SMU berusia sekitar 15-18 tahun disebut remaja menengah. Mahasiswa berusia sekitar 18-23 tahun disebut remaja akhir ( Ali Samil, 2000 ).
     Menurut kesepakatam Persatuan Bangsa-Bangsa ( PBB), pada tahun 1974, WHO memberikan definisi remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam konsep tersebut ditemukan 3 kriteria, yaitu : biologik, psikologik, da sosial ekonomi, sehingga secara bertahap berbunyi :
1.      Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai ia mencapai kematangan seksual.
2.      individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak sampai dewasa.
3.      Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yag relatif lebih mandiri.
     Jadi, remaja merupakan anak tanggungan karena remaja sudah tidak lagi anak-anak tetapi belum bisa disebut sebagai orang dewasa. Pada masa usia ini remaja mengalami peralihan dari mas anak-anak ke masa dewasa.
     Remaja juga disebut sebagai generasi muda penerus bangsa. Potensi remaja sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Remaja adalah calon pemimpin, penerus dan pengelola bangsa. Jika remaja sudah tidak peduli dengan masa depannya, maka negaranya bisa hancur ( Sukoharjo, 2000).
     Terjadinya pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja, termasuk pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan, sehingga mampu melangsungkan fungsi reproduksi. Perubahan itu ditandai dengan munculnya tanda-tanda sebagai berikut: tanda-tanda seks primer, yaitu yang berhubungan langsung dengan organ seks yaitu terjadinya haid pada remaja puteri (menarche) dan terjadinya mimpi basah pada remaja laki-laki (Depkes RI, 2001).
     Proses perubahan kejiwaan berlangsung lebih lambat dibandingkan perubahan fisik yang meliputi :
1.      Perubahan emosi, sehingga remaja menjadi sensitif (mudah menangis, cemas, frustasi dan tertawa; agresif dan mudah bereaksi terhadap rangsangan luar yang berpengaruh, sehingga misalnya mudah berkelahi.
2.      Perkembangan intelegensia, sehingga remaja menjadi: mampu berpikir abstrak, senang memberi kritik, ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku ingin mencoba-coba (Depkes RI, 2001).
2. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja
Pada setiap tahapan usia mempunyai tujuan untuk mencapai suatu kepandaian, keterampilan, pengetahuan, sikap, dan fungsi tertentu, sesuai dengan kebutuhan pribadi yang timbul dari dalam dirinya sendiri dan tuntunan yang datang dari masyarakat sekitarnya.
Pada remaja, tugas perkembangan itu, menurut Robert Havighurst adalah :
1.      Menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkan tubuhnya secara efiktif
2.      Menerima hubungan yang lebih matang dari teman yang sebaya dari jenis kelamin yang mana pun.
3.      Menerima peran jenis kelamin masing-masing ( laki-laki dan perempuan )
4.      Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya.
5.      Mempersiapkan karier ekonomi
6.      Mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga
7.      Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
8.      Mencapai sistem nilai dan etika tetentu sebagai pedoman tingkah lakunya.

C.  Pengetahuan
1.      Pengertian pengetahuan
     Pengetahuan ( knowledge ) adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan ”what” , misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya. ( Notoatmojo, 2010 ).
     Pengetahuan adalah hasil dari tau dan ini terjadi setelah orang  melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu : penglihatan, penciuman, rasa dan raba ( Notoatmojo, 2010 ).

2. Tingkatan Pegetahuan
      Pengetahuan mempunyai tingkatan yaitu
a.      Tahu ( know )
Yaitu kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya adalah mengingat kembali ( recall ) terhadap suatu yang spesifik dari suatu bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b.      Memahami (comprehetion )
Yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengenterpentasikan materi tersebut secara benar.
c.       Menerapkan ( application )
Yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu kondisi atau situasi yang riil ( sebenarnya )
d.      Analisis ( analysis )
Yaitu kemampuan untuk menyebarkan materi suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu dengan yang lainnya.
e.       Sintesa ( Synthesis )
Yaitu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f.       Evaluasi ( evaluation )
Yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada, misalnya dapat mebandingkan, menaggapi pendapat dan menafsirkan sebab-sebab suatu kejadian ( Notoatmojo, 2003). 

D. Sikap
1.      Pengertian Sikap
     Sikap reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap sesuatu stimulasi atau obyek. Manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari prilaku yang tertutup. Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif  tertentu ( Notoadmojo, 2007 )

2. Komponen Sikap
     Adapun  komponen yang saling bersama-sama membentuk sikap yang utuh       ( total attitud ) yaitu :
a.             Kognitif  ( cognitive )
Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat  diharapkan  dari obyek tertentu.
b.            Afektif ( affictive )
Menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu.


c.             Konatif (conative )
Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri sesorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi (Notoatmojo, 1997 ).

3. Tingkatan sikap
Berbagai tingkatan dalam pembentukan sikap yaitu :
a.       Menerima ( receiving )
Pada tingkat ini, seseorang sadar akan kehadiran sesuatu dan orang tersebut akan menjelaskan sikap seperti mendengarkan, menghindari, atau menerima keadaan tersebut.
b.      Merespon ( responding )
Yaitu memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
c.                   Menghargai ( valuving )
Sikap individu mengajak orang lain  untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
d.      Bertanggung Jawab (  Responsible )
Rasa tanggung jawab dan siap menangung segalah resiko atas segala sesuatu yang telah dipilihnya (Notoatmojo, 2007 ).

            E.  Hasil Penelitian Terdahulu
Berdasakan penelitian terdahulu oleh Addy A 25 agustus 2009, tentang Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang Menarche didapat  : Gambaran pengetahuan remaja putri tentang menarche secara keseluruhan masuk dalam kategori tidak baik yaitu 56,91 % disebabkan kurang mendapat informasi yang jelas tentang menarche  sedangkan gambaran sikap termasuk dalam kategori tidak mendukung yaitu 52,29 % karena dipengaruhi oleh pengetahuan yang kurang.

   























BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep
     Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan ( Notoadmojo, 2005 ). Variabel dependen ( Menarche ) maupun variabel independen ( pengetahuan dan sikap remaja putri ) melalui penelitian yang akan dilakukan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan dibawah ini.

Kerangka Konsep Penelitian
            Variabel Independen                                    Variabel Dependen


 

         Pengetahuan remaja Putri








 

                                                                                        Menarche
               Sikap Remaja Putri                                                                                                 
  
                                                  
3.2 Definisi Oprasional
3.2.1 Variabel Dipenden
                Menarche
a.       Pengertian                   : Haid yang datang pertama kali pada remaja
b.      Cara ukur                    : Wawancara
c.       Alat ukur                     : Kuesioner
d.      Hasil Ukur                   : - Pernah menarche
  - Tidak pernah menarche
e.       Skala ukur                   : Ordinal

3.2.2 Variabel independen
   1. Pengetahuan
a.   Pengertian       : Kemampuan responden dalam menjawab kuesioner yang       diberikan
b.      Cara Ukur       : Wawancara
a.       Alat Ukur        : Kuesioner
b.      Hasil Ukur       : 1. Baik ( Jika 75 % jawaban benar dari 15 pertanyaan )
     3. Kurang ( Jika < 75 % jawaban benar dari 15                    Pertanyaan)
c.       Skala               : Ordinal

2. Sikap
a.       Pengertian       : Prilaku dalam menerima menarche
b.      Cara Ukur       : Angket
c.       Alat Ukur        : Kuesioner
d.      Hasil Ukur       : 1. Positif ( Jika responden menjawab ya > 6 dari 10
      Pertanyaan )
                                                  2. Negatif (Jika responden menjawab tidak ≤ 6 dari 10
                                    Pertanyaan )
e.       Skala               : Ordinal

3. Remaja putri
a.       Pengertian       : Usia beranjak dewasa pada anak perempuan  ( umur 12-17 tahun )
b.      Hasil Ukur       : - Pernah menarche
  - Tidak pernah menarche




  


BAB IV
METODE  PENELITIAN

4.1   Rancangan penelitian
     Rancangan penelitian adalah pola rencana kegiatan penelitian yang disusun sedemikian rupa untuk menjawab penelitian. Rencana penelitian yang digunakan adalah penelitiam diskriptif dimana penelitian hanya untuk mengetahui gambaran tentang tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri terhadap menarche secara obyektif tanpa menganalisis lebih lanjut.
     Penelitian diskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif.            ( Notoatmojo, 2005 )

4.2   Populasi Penelitian
     Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau keseluruhan objek yang diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama ( Notoatmojo, 2003 ).
     Populasi adalah subyek yang memenuhi keriteria yang telah ditetapkan
 ( Nursalam, 2003 ).Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas VII, VIII dan IX  SMP Kartika –II 3 lahat yang memiliki rentang usia antara 12-17 tahun, dimana rentang usia ini menurut Ali Salim masuk kedalam remaja awal, yang berjumlah 120 orang siswi dengan rincian sebagai berikut :

a.       Siswi kelas VII ada 42 orang
b.      Siswi kelas VIII ada 38 Orang
c.       Siswi kelas I X ada 40 Orang

4.3   Sample Penelitian
     Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yag diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo, 2005 ). Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri atau siswi SMP Kartika II 3 lahat kelas VII, VIII dan IX pada tahun 2011.
                           N
         n =
                      1 + N ( d² )
                         
                             120
n = 
                     1 + 120 ( 0,1 ² )
                        
                         120
n =     
    2,2

         n =   54 orang



     Keterangan          :
         n = Jumlah Sampel
         N = Jumlah Populasi
         d =  Tingkat Signifikasi ( d = 0,1 )
     Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling, pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel secara quota atau jatah. Tehnik sampling ini digunakan pertama-tama menetapkan berapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quantum ( jatah ). Kemudian jumlah atau quantum itulah yang dijadikan dasar untuk pengambilan unit sampel yang digunakan ( Notoatmojo, 2005 ).

4.4 Lokasi dan Waktu Penelitian
4.4.1 Lokasi Penelitian
                    Lokasi penelitian dilaksanakan di SMP Kartika II 3 Lahat
4.4.2 Waktu Penelitian
                        Penelitian dilakukan pada bulan april sampai mei 2011.
  



 
4.5 Tehnik dan Instrumen Pengumpula Data
4.5.1 Tehnik Pengumpulan Data
1.      Data Primer
     Data sikap dan pengetahuan siswi melalui wawancara menggunakan daftar pertanyaan berupa kuesioner.
2.      Data sekunder
     Diperoleh melalui Dinas Pendidikan Kabupaten, Badan Pusat Statistik  Kabupaten dan SMP Kartika -II 3 lahat.
    
4.5.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data dengan kuesioner sebagai pedoman wawancara.

4.6 Tehnik Pengolahan Data
Setelah terkumpulnya data melalui kuesioner, maka dilakukan tahap pengolahan data yang melalui beberapa tahapan sebagai berikut. 
a.       Pengeditan  ( Editing )
Pada tahap ini, penulis melakukan penilaian terhadap data  yang diperoleh kemudian diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam pengisiannya.


b.      Pengkodean ( Coding )
Setelah diakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudakan dalam menganalisis data.
c.       Skor ( Scorsing )
Pada tahap ini, untuk variable pengetahuan, hasil ukurnya jika jawaban benar diberi nilai 1 dan jika salah nilainya 0. untuk varibel sikap untuk kategori favorable hasil ukurnya bila SS = 4, S = 3, TS = 2 dan STS = 1. Sedangkan pada unfavorable bila SS = 1, S = 2, TS = 3 dan STS = 4.
d.      Pengolahan  ( Tabulating )
Setelah dilakukan pengkodean dan scorsing pada semua data selanjutnya data diolah secara manual.

4.7   Tehnik Analisis Data
Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat, dimana secara menyeluruh data yang sejenis atau mendeteksi digabungkan, yang kemudian dibuat table distribusi frekuinsi untuk dipresentasikan.

           




BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1  Gambaran umum tempat penelitian
1.      Lokasi
SMP kartika –II 3 lahat beralamatkan Jl. Kapten Zen Ali pasar lama lahat,  diatas tanah berukuran ± 1 hektar.
2.      Berdiri
a.       Awal tahun 1986
1.      Jumlah lokal belajar                                   : 11 ruang
2.      Jumlah kantor kepala sekolah                   : 1   ruang
3.      Jumlah kantor wakil kepala sekolah          : 2   ruang
4.      Jumla kantor guru                                     : 1   ruang
5.      Jumlah kantor tata usaha                           : 1   ruang
6.      Jumlah wc kepalah sekolah                       : 1   ruang
7.      Jumlah wc tata usaha                                : 1   ruang
8.      Jumlah wc siswa                                       : 3   ruang
9.      Jumlah laboratorium                                  : 1   ruang
10.  Jumlah perpustakaan                                 : 1   ruang


b.      Tambahan bagunan
-  Tahun 2009 -2010 lokal belajar                   : 2   kelas

3.      Nama
a.       Tahun 1986-2000                          : SMP Candra Kirana
b.      Tahun  2000- sekarang                  : SMP Kartika – II 3 Lahat

4.      Visi dan Misi SMP Kartika –II 3 lahat
Visi      : Terwujudnya generasi muda yang unggul dalam prestasi, iptek dan Imtaq.
Misi     :
1.      Peningkatkan kegiatan pembelajaran dan bimbingan secara efiktif
2.      Mampu bersaing masuk sekolah kejenjang yang lebih tinggi
3.      Berprestasi di bidang olaraga dan kesenian
4.      Meningkatkan seni baca tulis Al-Qur’an
5.      Menumbuhkan bakat, kreatifitas dan motivasi siswa
6.      Membudayakan disiplin kebersihan, sopan santun dan berbudi luhur.


     Selain memberikan materi pelajaran sesuai kurikulum, SMP kartika – II lahat juga mengadakan kegiatan ektrakulikuler yang dapat diikuti oleh seluruh siswanya yaitu Olaraga, PMR ( Palang Merah Remaja ), Paskibraka ( Pasukan Pengebar Bendera Pusaka ) , Rohis dan Dram band.

5.      Ketenagaan
Untuk data jumlah tenaga di SMP katika  -II lahat terdiridari :
a)      Kepala sekolah                  : 1
b)      Wakil                                 : 3
c)      Guru                                  : 25
d)     Tenaga tata usaha              : 4
6.      Jumlah siswa
a)      Kelas VII                          : 98      siswa
b)      Kelas VIII                         : 176    siswa
c)      Kelas IX                            : 130    siswa
Jumlah             : 404    siswa  
7.      Karakteristik responden
Rata-rata usia responden dalam penelitian ini adalah 12-16 tahun, yang terdiri dari kelas VII, VIII dan IX. Siswi yang sudah mengalami menarche berjumlah 25 orang dan yang belum berjumlah 29 orang.
( Profil SMP Kartika – II 3 Lahat )
No
Kelas
Menarche
Belum Menarche
Jumlah
1
Kelas VII
2 Orang
15 Orang
17 Orang
2
Kelas VIII
10 Orang
12 Orang
22 Orang
3
Kelas IX
12 Orang
3 Orang
15 Orang
Jumlah Sampel   54 Orang                                         

STRUKTUR ORGANISASI
SMP KARTIKA – II 3 LAHAT















 

KEPALA SEKOLAH


 


     KOMITE                           WAKIL KEPALA SEKOLAH


 

                                                                                    TATA USAHA
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
 Kurikulum        Kesiswaan         Humas            Sarana Perasarana        Bimbingan Konsling                                                                                                                                                      WALI KELAS       
                                                                                                                                                            SISWA          








5.2 Hasil Penelitian
A. Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dengan memberikan kuesioner yang memuat 15 pertanyaan  dalam bentuk benar dan salah mengenai pengertian Menarche dan hal-hal yang harus diperhatikan saat Menarche kepada 60 responden yang ada di SMP Kartika – II 3 lahat diperoleh hasil yang dapat dilihat dari tabel dibawah ini.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri tentang Menarche di SMP Kartika – II 3 lahat Tahun 2011.
No
Pengetahuan Tentang Menarche
( % )
1
Baik
25
46,30
2
Tidak Baik
29
53,70

54
100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa gambaran  pengetahuan 29 responden  (53,70 %) adalah tidak baik dan 25 responden ( 46,30 ) adalah baik.


B.  Sikap
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dengan memberikan kuesioner yang memuat 10 pertanyaan  dalam bentuk sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju mengenai pengertian Menarche dan hal-hal yang harus diperhatikan saat Menarche kepada 54 responden yang ada di SMP Kartika – II 3 Lahat.yang dibagi dalam dua bagian pertanyaan yaitu pertanyaan sikap untuk yang belum mengalami Menarche dan yang sudah mengalami Menarche. diperoleh hasil yang dapat dilihat dari tabel dibawah ini.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Sikap yang belum Menarche di SMP Kartika – II 3 lahat Tahun 2011.
No
Sikap
( % )
1
Favorable
13
44,83
2
Unfavorable
16
55,17

29
100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa gambaran sikap siswi yang belum Menarche adalah 16 responden (55,17 %) tidak mendukung dalam menerima Menarche dan 13 responden ( 44,83 ) mendukung dalam menerima Menarche.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Sikap yang sudah Menarche di SMP Kartika – II 3 lahat Tahun 2011.
No
Sikap
( % )
1
Favorable
12
48,00
2
Unfavorable
13
52,00

25
100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa gambaran sikap siswi yang sudah Menarche adalah 13 responden (52,00 %) tidak mendukung dalam menerima Menarche dan 12 responden ( 48,00) mendukung dalam menerima Menarche.











BAB VI
PEMBAHASAN
           
1.      Pengetahuan
     Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwah pengetahuan remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat yang mempunyai kriteria baik yaitu 25 responden atau 46,30 % dan yang tidak baik yaitu 28 responden atau 53,70 % secara keseluruhan menunjukkan bahwa pengetahuan remaj putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat termasuk dalam kategori tidak baik.

     Pengetahuan ( Knom ledge )adalah hasil tahu dari manusia yang hanya menjawab pertanyaan ’’what ’’ misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya ( Notoadmojo, 2010 ).
     Pengetahuan adalah hasil dari tau dan ini terjadi setelah orang  melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu : penglihatan, penciuman, rasa dan raba ( Notoatmojo, 2010 ).
     Beberapa faktor penyebab besarnya kategori tidak baik pengetahuan dari para remaja putri Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat dikarenakan kurangnya komunikasi, informasi dan pendidikan seks remaja putri dari orang tua.
2.      Sikap
          Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwah sikap remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat yang termasuk dalam kategori :
1.      Sikap remaja putri yang belum mendapatkan menarche kriteria favorable (mendukung ) senang mendapatka menarche yaitu 13 responden atau 44,83 % dan unfavorable ( tidak mendukung ) tidak senang mendapatkan menarche yaitu 16 responden atau 55,17 %.
2.      Sikap remaja putri yang sudah mendapatkan menarche kriteria favorable (mendukung ) senang mendapatka menarche yaitu 13 responden atau 48 % dan unfavorable ( tidak mendukung ) tidak senang mendapatkan menarche yaitu 16 responden atau 52 %.

     Secara keseluruhan siakp remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat masih menunjukkan kriteria Unfavorable. Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu simulasi atau obyek. Manipestasi sikap itu tidak bisa langsung di lihat  tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan tindakan aktivitas, akan tetapi adalah predisposisi tindakan suatu prilaku.


Sikap mempunyai 3 komponen pokok yaitu :
1.      Kepercayaan ( Keyakinan ), ide dan konsep terhadap suatu objek
2.      Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
3.      Kecendrungan untuk bertindak
( Notoadmojo, 2003 ).
Beberapa faktor penyebab besarnya sikap dengan  kriteria unfovareble para remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat karena dipengaruhi adanya pengetahuan dari para remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika –II 3 Lahat yang masih kurang. Untuk itu perlu dilakukan upaya dalam membentuk sikap yang mendukung tentang menarche yaitu dengan meningkatkan pengetahuan mereka tentang menarche.
Remaj putri pertama kali bersentuhan langsung dengan persoalan seksualitas pada saat ia mendapatkan menstruasi yang pertamanya. Untuk itu pentingnya pendidikan seksual pada remaja putri agar lebih mengenal tubuhnya. Bagaimana remaj putri memaknai fungsi tubuh mereka yang berkaitan dengan seksualitas.





 BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
1.      Pengetahuan remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika – II 3 Lahat secara keseluruhan termasuk dalam kategori tidak baik yaitu 46,30 %  karena kurang mendapatkan informasi yang jelas tentang Menarche.
2.      Sikap remaja putri tentang Menarche di SMP Kartika – II 3 Lahat secara keseluruhan termasuk dalam kategori unfavoreble yang artinya tidak mendukung  terhadap Menarche yaitu 54,43 % karena dipengaruhi pengetahuan yang kurang tentang Menarche.

B.     Saran
Melihat dari hasil penelitian Gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP Kartika – II 3 Lahat maka peneliti mengajukan saran :
1.      Bagi institusi Pendidikan Akper Pemda Lahat
Diharapkan dapat menjadi masukan dalam penerapan penyuluhan mahasiswa pada kelompok remaja dalam kegiatan penelitian.


2.      Bagi SMP Kartika –II 3 Lahat
Hendaklah para guru khususnya guru biologi dapat memberika pelajaran ektra tentang masa pubertas khususnya tentang Menarche dan diharapkan agar bekerja sama dengan orang tua siswa untuk lebih memperhatikan dan mengarahkan para remaja dalam masa perkembangannya agar tidak salah mengartikan banyaknya informasi yang diterima. Karena banyaknya informasi yang diterima remaja tidak semua benar karena butuh pengendaliaan dari orang tua dengan cara lebih banyak meluangkan waktu untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengan remaja sehingga dapat lebih mengetahui, mengerti dan memahami perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan remaja serta serta dapat membantu dalam mencarikan solusi bagi remaja khususnya remaja putri yang mempunyai masalah tentang  Menarche.
3.      Bagi remaja putri di SMP Kartika – II 3 Lahat
Diharapkan remaja putri dapat mencari informasi yang jelas tentang Menarche dan dapat menggunakan media komunikasi yang ada dengan sebaik mungkin, agar tidak salah megartikan suatu informasi.
4.      Bagi peneliti selanjutnya
Bagi para peneliti yang meneliti hal-hal yang berkaitan dengan Menarche, diharapkan dapat mengkaji hal-hal yang belum dimunculkan atau belum dibahas dalam penelitian ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar