Senin, 12 November 2012

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Terhadap Pemilihan Alat Permainan Untuk Stimulasi Tumbuh Kembang Pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Masa balita merupakan salah satu periode penting dalam tumbuh kembang anak, terutama pada usia 1-3 tahun,  karena pada masa ini  otak anak akan lebih cepat menyerap segala sesuatu yang diterima dari rangsangan luar (Mahmud, 2010). Hasil penelitian yang dilakukan Montessorri, mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan sel jaringan otak pada usia 3 tahun pertama sudah mencapai 80%. Pertumbuhan volume otak terjadi hanya saat fase 1-3 tahun dan  perkembangannya bersifat permanen. Sedangkan 20% sisanya akan terjadi pada usia berikutnya dan bersifat meneruskan perkembangan yang telah terbentuk ketika usia 1-3 tahun. Oleh karena itu baik buruknya sikap anak, tinggi rendahnya kecerdasan anak, aktif pasifnya kegiatan motorik anak, akan dibentuk dan ditentukan ketika usia 1-3 tahun (Anwar, 2003). Artinya, bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan/stimulasi yang maksimal, maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal (Suyadi, 2009).
Penggunaan alat bantu dalam kegiatan bermain pada usia 1-3 tahun dapat menjadi stimulus yang  sangat diperlukan untuk merangsang perkembangan kognitif, motorik, kecerdasan, bahasa, dan adaptasi sosial (Suherman, 2010).  Berbagai data dan penelitian menyatakan bahwa bermain dengan menggunakan alat bantu 70% lebih efektif dibandingkan dengan tidak menggunakan alat bantu untuk perkembangan otak anak di 3 tahun pertama usianya (Bermain Stimulus, 2010). Alat permainan mempunyai peranan penting sebagai stimulus  dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Hasil penelitian Hurlock (1999) dalam Suyadi (2009), mengatakan bahwa alat permainan yang diberikan saat bermain dapat merangsang perkembangan yang utuh baik secara kognitif, motorik, intelektual, sosial, moral, dan emosional. Pemilihan alat permainan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap tumbuh kembang anak (Ronald, 2010). Kenyataannya saat ini, permainan yang menyebar di masyarakat lebih banyak didominasi permainan non-edukatif sehingga tidak sedikit mainan yang diproduksi dari pabrik memiliki fungsi yang kurang dalam menunjang tumbuh kembang anak. Alat permainan tersebut antara lain kartu bergambar, manusia karet, Video games,  mainan elektronik dan mainan yang berbasis komputer lainnya. Salah satu contoh permainan elektronik sepeti permainan berupa pertarungan atau pertandingan/tinju, dengan gambar animasi pahlawan, hanya akan menananamkan sifat-sifat kekerasan, sebab anak cenderung akan meniru apa yang dilihat. Kemudian permainan kartu bergambar hanya akan menanamkan sifat judi dalam diri anak (Suyadi, 2009).
Dalam memilih alat permainan perlu diperhatikan unsur edukatif sehingga anak tidak hanya bermain tetapi juga belajar (Musbikin, 2010).  Jika pemlilihan alat permainan yang diberikan tidak tepat, dapat mengganggu tumbuh kembang anak antara lain gangguan perkembangan emosi, sosial, motorik bahkan intelektualitasnya. Sebagai contoh, alat permainan video games hanya akan menumbuhkan sikap individualis dan kurang kreatif karena terlalu sibuk dan asyik dengan dirinya sendiri tanpa ada waktu untuk bersosialisasi dengan orang lain (Prakoso, 2009).
Hasil  survei penelitian  Keith Myer mengatakan bahwa sebesar 60% perkembangan emosi dan sosial anak dipengaruhi dari apa yang digunakan saat bermain (Soekresno, 2007). Kemudian gangguan pertumbuhan yang bisa terjadi, anak akan kurang tertarik pada kegiatan yang lebih membutuhkan aktivitas fisik dan koordinasi motorik kasar. Hal ini dapat membuat anak kurang memiliki kesegaran jasmani yang baik yang dapat mempengaruhi postur tubuh. Misalnya menjadi kegendutan, bungkuk, dan gerakan tidak gesit. Bila main terlalu lama dengan jarak penglihatan yang terlalu dekat dengan layar monitor (video games), kemungkinan dapat menimbulkan kelelahan fisik atau menganggu penglihatan (Mahmud, 2010).
Data Riset Internasional tahun 2006 ketika dilakukannya Research Play and Physical Quotient atau Riset Kemampuan fisik dan Bermain anak menunjukkan bahwa Indonesia menjadi urutan terendah dibandingkan Thailand, Vietnam dan Jepang. Dalam hal ini juga terungkap bahwa aktivitas yang paling sering dilakukan anak-anak adalah menonton TV daripada bermain dengan menggunakan alat permainan yang bersifat edukatif (Sriamin, 2006).
Uraian data di atas kemungkinan disebabkan kurangnya pengetahuan dan sikap orang tua, terutama ibu, yang mendukung tentang pentingnya pemilihan alat permainan yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak terutama pada usia 1-3 tahun  ( Prasetyaningrum, 2009 ). Oleh karena itu orang tua, terutama ibu, dalam memberikan kesempatan bermain perlu mengklasifikasikan jenis dan bentuk permainan yang tepat sesuai dengan usia anak. Artinya, dalam memilih permainan sebaiknya orang tua tidak asal memilih tetapi harus memperhatikan unsur edukatif yang terdapat dalam permainan tersebut. Jika pemilihan alat permainan tidak sesuai dengan tahap usia anak maka anak akan mengalami kesulitan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal (Prakoso, 2009).
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu tempat bermain anak yang menggunakan alat permainan. Anak- anak yang tercatat dalam kelompok bermain di PAUD Basoka, salah satu PAUD yang ada di kota Palembang, berjumlah 54 orang dimana 30 orang diantaranya adalah anak usia 1-3 tahun. Hasil wawancara singkat peneliti terhadap 10 orang ibu yang berada di PAUD Basoka Sukarame Palembang, menunjukkan bahwa 6 dari 10 ibu mengatakan, belum mengetahui alat permainan yang tepat dengan usia anaknya. Berdasarkan data di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemilihan alat permainan untuk stimulasi tumbuh kembang anak usia 1-3 tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011.

1.1.1        Rumusan Masalah
Pertumbuhan dan perkembangan anak di usia 1-3 tahun perlu dioptimalkan dengan stimulasi yang tepat, salah satunya adalah dengan menggunakan alat permainan yang mampu merangsang perkembangan intelektual, emosional, motorik, dan sosial.
Indonesia menjadi urutan terendah dibandingkan dengan Thailand, Vietnam dan Jepang dalam riset kemampuan fisik dan bermain anak. Hasil wawancara singkat yang dilakukan peneliti ditemukan sebanyak 60%  ibu belum mengetahui alat permainan yang tepat dengan usia tumbuh kembang anak. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap orang tua terhadap pemilihan alat permainan bagi anaknya adalah kurang sehingga rumusan masalah yang didapat adalah belum diketahuinya hubungan pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemilihan alat permainan untuk stimulasi tumbuh kembang pada anak usia 1-3 tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011.

1.1.2.      Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan penelitian antara lain :
1.1.2.1.        Bagaimana Gambaran Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka  Sukarame Palembang ?
1.1.2.2.        Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka  Sukarame Palembang ?
1.1.2.3.        Bagaimana Gambaran Sikap Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka  Sukarame Palembang ?
1.1.2.4.         Adakah Hubungan Pengetahuan Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka  Sukarame Palembang ?
1.1.2.5.        Adakah Hubungan Sikap Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka  Sukarame Palembang ?

1.2      Tujuan Penelitian
1.2.1. Tujuan Umum
Mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011.

1.2.2.    Tujuan Khusus
1.2.2.1.    Mengetahui Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011.
1.2.2.2.    Mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu  terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011.
1.2.2.3.    Mengetahui Gambaran Sikap ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011.
1.2.2.4.    Mengetahui Hubungan Pengetahuan Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011.
1.2.2.5.    Mengetahui Hubungan Sikap Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011.

1.3.      Manfaat Penelitian
Semua hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat sebagai berikut :
1.3.1.      Bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Basoka Sukabangun Palembang
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan informasi bagi para pendidik dalam memilih alat permainan yang  tepat  untuk stimulasi tumbuh kembang pada anak usia 1-3 tahun. Sebagai pihak pendidik diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas mutu pendidikan. Dalam aplikasinya, diharapkan pendidik dapat mengedukasi orang tua dalam memilih alat  permainan yang tepat bagi anaknya.

1.3.2.      Bagi Profesi Keperawatan
Diharapkan dapat menambah wawasan bagi profesi keperawatan dalam menstimulasi tumbuh kembang anak dengan memilih alat permainan yang tepat dan dalam penerapannya dapat dilakukan pada anak sakit sebagai terapi terapeutik di rumah sakit.

1.3.3.      Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti mengenai pentingnya memilih alat permainan sebagai stimulasi tumbuh kembang anak khususnya pada usia 1-3 tahun.  Menambah pengalaman dalam menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah untuk menunjang kesehatan anak dalam tumbuh kembangnya.

1.4.      Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011. Subjek penelitian ini adalah semua Ibu yang mempunyai anak usia 1-3 Tahun yang anaknya tercatat dalam kelompok bermain di PAUD Basoka Sukarame Palembang. Variabel Dependen adalah  pemilihan alat permainan untuk stimulasi anak usia 1-3 tahun dan variabel independen adalah pengetahuan dan sikap ibu. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen pengumpulan data kuesioner. Penelitian dilakukan di PAUD Basoka Sukarame Palembang pada bulan Maret – Juni  2011.







































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Bermain dan Alat Permainan
2.1.1.   Pengertian Bermain
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh kesenangan/kepuasan. Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan sosial (Wong, 2000). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bermain juga dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan hati dengan menggunakan alat tertentu atau tidak.
Bermain juga dapat digunakan sebagai media untuk belajar karena dengan bermain anak akan belajar untuk berkomunikasi, menyesuaikan diri, melakukan hal yang dapat dilakukan, mengenal waktu, jarak, dan suara (Supartini, 2004).          

2.1.2.   Fungsi Bermain
Maksud dan tujuan bermain adalah agar dapat diketahui perkembangan anak lebih lanjut, mengingat anak mempunyai berbagai masa dalam tumbuh kembang seperi masa kritis, optimal dan sensitif. Adapun fungsi bermain menurut Hidayat (2007), antara lain:

A.    Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik
Fungsi ini dapat dilakukan dengan rangsangan sensorik dan motorik. Melalui rangsangan ini, anak dapat mengeksplorasikan alam sekitarnya. Sebagai contoh, bayi dapat dilakukan dengan rangsangan taktil, audio, dan visual sehingga perkembangan sensorik dan motoriknya meningkat. Sejak lahir anak yang telah dikenalkan atau dirangsang visualnya, dikemudian hari kemampuan visualnya akan lebih menonjol, seperti cepat mengenal seseuatu yang baru dilihatnya. Demikian juga dengan pendengaran, apabila sejak bayi dikenalkan dengan suara-suara maka daya pendengaranya dikemudian hari akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan yang tidak ada stimulasi sejak dini. Kemudian kemampuan motorik apabila sejak bayi kemampuan motorik sudah dilakukan rangsangan, kemampuan motoriknya akan lebih cepat berkembang, seperti kemampuan menggenggam, menarik benda. Jadi rangsangan atau stimulasi yang dimaksud tersebut adalah melalui suatu permainan dan alat permainan yang digunakan.

B.     Membantu Perkembangan Kognitif (berpikir)
Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan baik yang mengunakan alat atau tidak. Hal ini dapat terlihat pada saat anak bermain. Anak akan mencoba melakukan komunikasi dengan bahasa anak, mampu memahami objek permainan, seperti dunia tempat tinggal, mampu belajar warna, memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam permainan sehingga fungsi dari bermain pada model ini akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya.

C.     Meningkatkan Sosialisasi Anak
Proses sosialisasi ini dapat terjadi melalui permainan. Sebagai contoh pada usia bayi, anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang memiliki dunia yang sama. Pada usia todler, anak sudah mampu bermain dengan sesamanya. Kegiatan ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan yang lain. Kemudian bermain peran, seperti bermain berpura-pura menjadi seorang guru, jadi seorang anak, jadi seorang bapak, dan lain-lain. Pada usia prasekolah, anak sudah mulai menyadari akan keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang lain.


D.    Meningkatkan Kreativitas
Anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek yang digunakan dalam permainan sehingga anak akan lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang mobil-mobilan.

E.     Meningkatkan Kesadaran Diri
Dengan bermain dapat memberikan kemampuan pada anak untuk eksplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari individu yang saling berhubungan. Anak mau belajar mengatur perilaku dan membandingkan dengan perilaku orang lain.

F.      Mempunyai Nilai Terapeutik
Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga stress dan ketegangan dapat dihindarkan. Bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya.

G.    Mempunyai Nilai  Moral pada Anak
Dengan bermain, anak mulai mampu belajar benar dan salah dari budaya di rumah, di sekolah, atau ketika berinteraksi dengan temannya. Fungsi demikian dapat melalui permainan yang memiliki aturan-auran yang harus dilakukan dan tidak boleh di langgar

2.1.3.  Klasifikasi Bermain
Ada beberapa jenis permainan, ditinjau dari isi permainan dan karakter sosial (Supartini, 2004) antara lain :
A.    Berdasarkan isi permainan
1.      Bermain Afektif Sosial
Bermain ini akan menunjukkan adanya perasaan senang dalam berhubungan dengan orang lain, seperti ketika anda memeluk anak sambil berbicara, bersenandung, kemudian anak memberikan respon seperti tersenyum, tertawa gembira, dan lain-lain. Sifat dari bermain ini adalah orang lain yang berperan aktif sedangkan anak hanya berespon terhadap stimulasi sehingga akan memberikan kesenangan dan kepuasan bagi anak.

2.      Bermain Bersenang-senang
Tipe bermain ini hanya memberikan kesenangan pada anak melalui objek yang ada sehingga anak merasa senang dan bergembira tanpa adanya kehadiran orang  lain. Sifat bermain ini adalah tergantung dari stimulasi yang diberikan pada anak. Seperti bermain boneka-bonekaan, binatang-binatangan dan lain-lain.

3.      Bermain Keterampilan
Bermain ini menggunakan objek yang dapat melatih kemampuan keterampilan anak. Diharapkan anak mampu untuk berkreatif dan terampil dalam segala hal. Sifat permainan ini adalah aktif dimana anak selalu ingin mencoba kemampuan dalam keterampilan tertentu, seperti bermain dalam bongkar pasang gambar. Disini anak akan selalu dipacu untuk selalu tampil dalam meletakkan gambar yang telah dibongkar, kemudian bermain latihan memakai baju dan lain-lain.

4.        Bermain Dramatik
Sesuai dengan sebutannya, pada permainan ini anak akan memainkan peran sebagai orang lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa, misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya dan lainnya. Apabila anak bermain dengan temannya, maka akan terjadi percakapan di antara mereka tentang peran orang yang mereka tiru. Permainan dramatik ini dapat dilakukan apabila anak sudah mampu berkomunikasi dan mengenal kehidupan sosial.

B.     Berdasarkan Karakter Sosial
1.      Bermain Menyelidiki
Bermain ini memberikan sentuhan pada anak untuk berperan dalam  menyelidiki sesuatu atau memeriksa dari alat permainan, seperti mengocok atau mengetahui isinya. Permainan ini bersifat aktif dan dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan pada anak.

2.      Bermain Konstruksi
Bermain ini bertujuan untuk menyusun suatu objek permainan agar menjadi sebuah konstruksi yang benar, seperti permainan menyusun balok. Sifat dari permainan ini adalah aktif dimana anak selalu ingin menyelesaikan tugas-tugas yang ada dalam permainan dan dapat membangun kecerdasan pada anak.

3.      Bermain Onlooker
Permainan ini adalah suatu permainan dengan cara melihat apa yang dilakukan oleh anak lain yang sedang bermain tetapi ia tidak berusaha untuk ikut bermain. Sifat dari permainan ini adalah pasif, akan tetapi anak akan mempunyai kesenangan atau kepuasan tersendiri dengan melihatnya.

4.      Bermain Soliter/Mandiri
Bermain yang dilakukan secara sendiri hanya terpusat pada permainannya sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Sifatnya adalah aktif, tetapi bentuk stimulasi tambahan kurang karena dilakukan sendiri. Dalam perkembangan mental, dapat membantu menciptakan kemandirian pada anak.

5.      Bermain Paralel
Bermain secara sendiri tetapi di tengah-tengah anak lain yang sedang bermain, tetapi tidak ikut dalam kegiatan orang lain. Sifat dari permainan ini adalah anak aktif secara sendiri tetapi masih dalam satu kelompok. Dengan harapan, kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas mandiri dalam kelompok tersebut terlatih dengan baik.

6.      Bermain Asosiatif
Bermain secara bersama dengan tidak mengikat sebuah aturan yang ada. Semuanya bermain, tanpa memperdulikan teman yang lain dalam sebuah aturan. Bermain ini akan menumbuhkan kreativitas anak karena ada stimulasi dari anak lain, tetapi belum dilatih dalam mengikuti aturan dalam kelompok.

7.      Bermain Kooperatif
Bermain dengan cara bersama dengan adanya aturan yang jelas, adanya perasaan dalam kebersamaan sehingga terbentuk hubungan pemimpin dan pengikut. Sifat permainan ini adalah aktif. Anak akan selalu menumbuhkan kreativitasnya dan melatih anak pada peraturan kelompok sehingga anak dituntut mengikuti peraturan.

2.1.4.   Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain
Supartini (2004), membagi faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain menjadi lima bagian, antara lain :

A.    Tahap Perkembangan Anak
Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. Permainan anak usia bayi tidak lagi efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah. Demikian juga sebaliknya karena permainan merupakan alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu orang tua harus mampu mengetahui dan memberikan alat dan jenis permainan yang tepat untuk setiap tahapan tumbuh kembang anak.

B.     Status Kesehatan Anak
Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi. Hal ini bukan berarti anak tidak perlu bermain saat sedang sakit. Kebutuhan akan bermain pada anak sama halnya dengan kebutuhan bekerja pada orang dewasa. Pada saat kondisi anak anak sedang menurun atau sakit, orang tua harus jeli dalam memilihkan permainan dan alat yang tepat untuk digunakan dalam bermain yang dalam hal ini bukan asal alat bermain tetapi harus yang mempunyai nilai edukatif.

C.     Jenis Kelamin Anak
Dalam melaksanakan aktivitas bermain tidak membedakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun perempuan untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreativitas, dan kemampuan sosial anak.

D.    Lingkungan yang Mendukung
Fasilitas bermain tidak selalu harus dibeli di toko atau mainan  jadi dengan harga yang mahal, tetapi lebih diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi dan kreativitas anak. Bahkan seringkali mainan tradisional yang dibuat sendiri lebih dapat merangsang kreatif anak. Keyakinan keluarga tentang moral dan budaya juga mempengaruhi bagaimana anak dididik melalui permainan. Sementara lingkungan fisik sekitar rumah lebih banyak mempengaruhi ruang gerak anak untuk melakukan aktivitas fisik dan motorik.

E.     Alat dan Jenis Permainan yang Cocok
Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk anak. Pilih yang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Label yang tertera pada mainan harus dibaca terlebih dahulu sebelum membelinya, apakah mainan tersebut sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. Alat permainan yang harus didorong, ditarik, dan dimanipulasi, akan mengajarkan anak untuk dapat mengembangkan koordinasi alat gerak. 

2.1.6.   Alat Permainan
Alat permainan adalah suatu alat yang digunakan untuk bermain anak (Suyadi, 2009). Alat permainan merupakan salah satu alat untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak (Soetjiningsih, 2006). Dalam memilih alat permainan untuk anak dibutuhkan ketelitian yang harus disesuaikan dengan usia tumbuh kembang sehingga pertumbuhan dan perkembangan pada anak menjadi optimal (Ismail, 2009). Anak memerlukan alat permainan yang bervariasi agar tidak cepat bosan. Alat permainan tidak harus didapat dengan cara membeli tetapi bisa dengan cara membuat sendiri (Musbikin, 2010).

2.2. Konsep Pengetahuan dan Sikap
2.2.1.  Konsep Pengetahuan
2.2.1.1. Pengetahuan Secara Umum
Pengetahunan adalah hasil dari penginderaan manusia terhadap objek yang dimilikinya. Pengetahuan dapat diukur atai diobbservasi melalui apa yang diketahui tentang objek misalnya pengetahuan tentang pengobatan penyakit kusta. Pengetahuan merupakn hasil dari tahu dan ini tejadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan sebagai domain penting dalam membentuk tindakan seseorang. (Notoatmodjo, 2010)
Tingkatan pengetahuan di dalam domain Kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo, 2010) :
A.    Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
B.     Memahami (Komprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
C.     Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya.
D.    Analisis (Analysis)
Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen. Komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada keterkaitan satu sama yang lainya.
E.     Sintesis ( Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau untuk menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
F.      Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

Hasil ukur dalam menilai pengetahuan seseorang dapat dilakukan dengan menggunakan skala ukur ordinal.

2.2.1.2. Pengetahuan Ibu dalam Pemilihan Alat Permainan
A.    Fungsi Alat Permainan
Menurut Surjadi (2005), fungsi dari alat permainan antara lain:
1.      Sebagai alat untuk merangsang kreativitas anak
2.      Sebagai tempat untuk menyalurkan emosi anak
3.      Sebagai terapi dalam meningkatkan kesehatan anak
4.      Sebagai alat bantu untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal
5.      Sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, berpikir, imajinasi, moralitas, dan sosialisasi.

B.     Alat Permainan Edukatif (APE)
Alat permainan edukatif (APE) adalah suatu alat permainan yang dapat mengembangkan dan mengoptimalkan aspek tertentu (kemampuan fisik, bahasa, kognitif, dan adaptasi sosialnya) secara optimal ketika anak bermain. (Suyadi, 2009)
Dikatakan APE, karena alat permainan ini harus aman, ukurannya sesuai dengan usia anak, modelnya jelas, menarik, sederhana, dan tidak mudah rusak. Dalam penggunaan alat permainan edukatif ini banyak dijumpai pada masyarakat terutama ibu, kurang memahami jenis permainan karena banyak orang tua membeli alat permainan tanpa memperdulikan jenis kegunaan yang mampu mengembangkan aspek tersebut, terkadang harganya mahal  tetapi tidak sesuai dengan usia anak. (Hidayat, 2005)
Ketika anak sedang bermain, sesungguhnya mereka sedang belajar. Dalam hal inilah pentingnya orang tua memilih dan menentukan alat permainan yang tepat dengan perkembangan anak. Pemilihan permainan yang sesuai dengan perkembangan  anak ini perlu dilakukan agar pesan edukatif dalam setiap permainan dapat ditangkap anak dengan mudah dan menyenangkan
(Hidayat, 2007).

C.     Syarat-Syarat Alat Permainan Edukatif (APE)
Syarat-syarat suatu permainan dikatakan APE, Menurut Hidayat (2009) :
1.      Keamanan
Alat permainan anak untuk usia di bawah 2 tahun hendaknya tidak terlalu kecil, catnya tidak beracun, tidak ada bagian yang tajam, dan tidak mudah pecah karena pada usia ini kadang-kadang suka memasukkan benda ke dalam mulut.

2.      Ukuran dan Berat
Prinsipnya mainan tidak membahayakan dan sesuai dengan usia anak. Apabila mainan terlalu besar atau berat, anak sukar menjangkau atau memindahkannya. Sebaliknya jika terlalu kecil mainan akan mudah tertelan.

3.      Desain
APE sebaiknya mempunyai desain yang sederhana dalam ukuran, susunan, dan warna serta jelas maksud dan tujuannya. Selain itu, APE hendaknya tidak terlalu rumit untuk menghindari kebingungan anak.

4.      Fungsi yang Jelas
APE sebaiknya mempunyai fungsi yang jelas untuk menstimulasi perkembangan anak.

5.      Variasi APE
APE sebaiknya dapat dimainkan secara bervariasi (dapat dibongkar pasang). Namun tidak terlalu sulit agar anak tidak frustasi dan tidak terlalu mudah karena anak akan cepat bosan.

6.      Universal
APE harus dapat diterima dan dikenali oleh semua budaya dan bangsa. Jadi, dalam menggunakannya, APE mempunyai prinsip yang bisa dimengerti oleh semua orang.

7.      Tidak mudah rusak, mudah di dapat, dan terjangkau oleh masyarakat luas
Karena APE berfungsi sebagai stimulus untuk perkembangan anak, maka setiap lapisan masyarakat baik dengan tingkat ekonomi tinggi maupun rendah hendaknya dapat menyediakan.

Sedangkan menurut Suyadi (2009), syarat-syarat permainan dikatakan APE adalah sebagai berikut :
1.      Sesuai dengan Perkembangan Anak
Montessorri (1936), pernah mengemukakan bahwa setiap anak pasti akan melewati masa peka atau periode sensitif. Setiap masa peka tersebut anak-anak membutuhkan permainan dengan alat yang berbeda-beda. Jika mainan tidak sesuai dengan masa peka atau periode sensitif yang dilewatinya, maka permainan tersebut tidak akan membawa dampak apa-apa bahkan akan  menjadi benci terhadap permainan tersebut. Montessorri menemukan sembilan masa peka anak. Masing-masing masa peka itu memerlukan metode dan alat permainan edukatif tersendiri. Kesembilan masa peka tersebut adalah sebagaimana dikemukakan oleh Sudono (2009), sebagai berikut :

Tabel 2.1
 Masa Peka Montessori
No.
Usia Anak
Masa Peka
1.
0 – 3 tahun
Masa penyerapan total : perkenalan dan pengalaman pancaindra sensorik
2.
1,5 – 3 tahun
Perkembangan bahasa
3.
1,5 – 4 tahun
Perkembangan koordinasi antara mata dan otot-ototnya, perhatian ke benda-benda kecil
4.
2 – 4 tahun
Perkembangan dan penyempurnaan gerakan-gerakan, perhatian pada hal-hal yang nyata
5.
2,5 – 6 tahun
Penyempurnaan penggunaan pancaindra
6.
3 – 6 tahun
Peka terhadap pengaruh orang dewasa
7.
3,5 – 4,5 tahun
Mulai mencoret-coret
8.
4 – 4,5 tahun
Indra peraba mulai berkembang

4,5 – 5,5 tahun
Mulai tumbuh minat baca
                (Sumber : Sudono, 2009)

2.  Aman
Kriteria kedua dalam memilih alat permainan yang mencerdaskan adalah sifat aman. Aman dalam artian tidak membahayakn fisik maupun psikis anak. Bahan baku untuk membuat alat permainan adalah faktor utama. Terlebih lagi, untuk anak usia 1-3 tahun, maka pemilihan alat permainan harus lunak, tanpa sisi tajam, dan lembut.



3.  Menyenangkan
Tidak semua alat permainan yang menyenangkan dapat diberikan pada anak. Sebab, bisa  jadi permainan tersebut justru merusak aspek tertentu dalam diri anak. Oleh karena itu walaupun menyenangkan , permainan itu juga harus mencerdaskan. Faktor yang menyenangkan dalam setiap permainan sangat penting diperhatikan, karena jika permainan itu ternyata tidak disenangi anak walaupun menurut ibu itu sangat baik, maka anak akan menujukkan sifat benci pada permainan tersebut.

D.    Fungsi Alat Permainan Edukatif  (APE)
Ismail (2009), mengelompokkan beberapa fungsi dari permainan edukatif sebagai berikut:
1.      Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak melalui proses pembelajaran bermain sambil belajar;
2.      Merangsang pengembangan daya pikir, daya cipta, bahasa, agar dapat menumbuhkan sikap, mental serta akhlak yang baik;
3.      Menciptakan lingkungan bermain yang menarik, memberikan rasa aman, dan menyenangkan;
4.      Meningkatkan kualitas pembelajaran anak-anak.

Karena begitu pentingnya permainan edukatif, sudah seharusnya orangtua di rumah, terutama ibu, dapat memilih dan menyediakan alat-alat yang dapat mendukung perkembangan totalitas kepribadian anak, yang menyangkut fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional. Dalam memilih dan menentukan alat-alat permainan, orang tua harus bijak sebab, tidak semua alat yang harganya mahal dan dicap modern bersifat mendidik; bisa jadi hanya akan menanamkan mental instan dan konsumtif kepada anak (Anwar, 2003).


E.     Jenis Alat Permainan Berdasarkan Kelompok Usia 1-3 Tahun
Dalam penggunaan alat permainan pada anak tidaklah selalu sama dalam setiap usia tumbuh kembang melainkan berbeda. Jenis alat permainan yang sesuai dengan umur (Hidayat, 2005) sebagai berikut :
1.      Usia 1 tahun
Tujuan :
a.       Melatih anak untuk dapat mengenal sumber suara dalam perkembangan sensoriknya ( pada usia ini, anak belum tertarik untuk mencari sumber suara, hanya akan mendengar dan melihat)
b.      Melatih kemampuan motorik halus dengan mainan yang dapat digoyang
c.       Melatih perkembangan otak/kecerdasan dengan mainan yang  memiliki warna-warna yang cerah dari kertas
d.      Melatih koordinasi anggota gerak dengan mainan yang digantung dari kertas

Alat permainan yang dianjurkan :
a.       Kerincingan, benda yang menimbulkan suara
b.      Mainan yang dapat digoyang, boneka plastik
c.       Mainan yang terbuat dari kertas dan digantung (mobil-mobilan dari kertas atau bentuk yang lain)
d.      Balon
e.       Gambar hewan dan tumbuhan

2.        Usia 2 tahun
Tujuan :
a.       Mencari sumber suara/ mengikuti sumber suara.
b.      Memperkenalkan sumber suara
c.       Melatih anak melakukan gerakan mendorong atau menarik
d.      Melatih imajinasi

Alat permainan yang dianjurkan :
a.       Gendering, bola dengan giring-giring didalamnya
b.      Alat permainan yang dapat ditarik atau didorong (mobil-mobilan)
c.       Alat permainan yang terdiri dari alat rumah tangga (misalnya cangkir yang tidak mudah pecah, sendok plastik, ember, Waskom, air, balok-balok besar, kardus, buku bergambar, kertas-kertas untuk dicoret, krayon/pensil warna).

3.      Usia 3 tahun
Tujuan :
a.       Menyalurkan emosi/perasaan anak
b.      Mengembangkan keterampilan berbahasa
c.       Melatih motorik halus dan kasar
d.      Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung,
mengenal, dan membedakan warna)

Alat permainan yang dianjurkan :
a.       Lilin yang dapat dibentuk
b.      Alat-alat untuk menggambar
c.       Parsel (puzzle sederhana)
d.      Manik-manik ukuran besar
e.       Bola
Untuk mengetahui alat permainan edukatif yang benar, ada beberapa contoh jenis permainan yang dapat mngembangkan secara edukatif antara lain:
1.      Pertumbuhan fisik atau motorik kasar
Permainan sepeda roda tiga atau dua, mainan yang ditarik atau didorong dan lain sebagainya.
2.      Mengembangkan kemampuan motorik halus
Gunting, pensil, bola, balok, lilin, dan lain-lain sejenisnya
3.      Mengembangkan kemampuan kognitif dan kecerdasan anak
Buku gambar, puzzle, buku cerita, boneka, pensil warna, dll
4.      Mengembangkan kemampuan bahasa
Buku gambar, majalah, radio, tape, dan televisi dll
5.      Mengembangkan kemampuan menolong diri sendiri
Gelas plastik, sendok, baju, sepatu, kaos kaki
6.      Mengembangkan tingkah laku sosial
Kotak, bola, dan tali
Alat permainan dikatakan tepat jika mengandung unsur edukatif di dalamnya dan sesuai dengan usia tumbuh kembangnya. Dikatakan tidak tepat jika alat yang diberikan tidak sesuai dengan usia tumbuh kembang anak (Musbikin, 2010). Untuk lebih jelasnya, berikut ini dapat dijadikan panduan dalam memilih alat permainan edukatif yang mencerdaskan dan sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak (Suyadi, 2009).

Tabel 2.2.
Usia dan Alat Bantu yang Tepat untuk Anak Usia 1-3 tahun
Usia
Perkembangan
Alat Bantu Permainan Edukatif
0 – 1 Tahun
Moral dan nilai-nilai agama
  1. Membaca anak membaca doa ringan sebelum dan sesdah melakukan kegiatan
  2. lagu-lagu keagamaan

Sosial, emosional dan kemandirian
  1. kue/makanan ringan yang tidak keras
  2. Balok
  3. Piring plastik
  4. buah
  5. cangkir plastik
  6. baju/celana
  7. memberi contoh tersenyum
  8. memperagakan reaksi terhadap orang yang dikenal

Bahasa
  1. lagu-lagu anak
  2. kaset/CD lagu anak
  3. kerincingan
  4. sendok
  5. alat-alat yang bisa dipukul
  6. poster
  7. foto
  8. mainan berbentuk model
  9. buku bergambar

Intelegensi
  1. Mobil (mainan gantung, dari kertas warna-warni)
  2. alat permainan yang berbunyi
  3. kursi/tiang
  4. tiang putar
  5. kursi roda bayi
  6. boneka
  7. balon

Fisik dan Motorik
  1. bola
  2. alat permaian yang berbunyi
  3. boneka, balon,cangkir plastik

Seni
Lagu-lagu anak
1 – 2 Tahun
Moral dan nilai-nilai agama
  1. Membaca anak membaca doa ringan sebelum dan sesdah melakukan kegiatan
  2. lagu-lagu keagamaan

Sosial, emosional dan kemandirian
  1. kue/makanan ringan yang tidak keras
  2. Balok
  3. Piring plastik
  4. buah
  5. cangkir plastik
  6. baju/celana
  7. sepatu/sandal,kaos kakai
  8. foto keluarga
  9. cermin
  10. kotak mainan

Bahasa
  1. Lagu-lagu untuk anak-anak
  2. kaset/CD lagu anak
  3. bola
  4. alat-alat yang dapat diambil


Intelegensi
  1. berbagai model
  2. permaian ciluk ba
  3. permainan petak umpet
  4. menara gelang
  5. balok berukuran besar
  6. buku cerita bergambar
  7. cermin

Fisik dan motorik
  1. bola
  2. papan pasak
  3. menara gelang
  4. kotak bentuk
  5. kursi dan meja  kecil
  6. mainan bentuk kendaraan
  7. boneka
  8. balon
  9. tangga berundak
  10. irama musik utuk menari
  11. irama musik untuk menari
  12.  bola keranjang, ambil gunting di ruangan


Seni
  1. lagu-lagu untuk anak
  2. kaset/CD untuk anak
  3. pensil warna dan kertas
  4. alat musik pukul (rebana, kaleng, temborong )

2 – 3 Tahun
Moral, nilai-nialai agama
  1. ucapan salan jika masuk dan bertemu orang
  2. ucapan terima kasih’
  3. mengajak anak membaca sebelum dan sesudah

Sosial, emosional dan kemandirian
  1. Kue/makanan
  2. Balok
  3. pring plastik
  4. sendok gagag pintu
  5. buah
  6. cangkir plastik
  7. baju berkancing depan
  8. celanan beresleting
  9. sepatu, sandals
  10. Anggota tubuh
  11. ember  berisi air

Bahasa
  1. gambar warna-warni
  2. buku cerita
  3. lagu tokoh anak


Intelegensi
  1. berbagai model (bentuk benda)
  2. permainan ciluk ba
  3. block rock
  4. puzzle geometri
  5. balok ukuran besar
  6. cermin
  7. tangga merundak
  8. irama musik untuk mnari
  9.  buku/majalah untuk dibuka
  10. pensil
  11. bola keranjang
(Sumber : Suyadi, 2009)

F. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Alat Permainan
Ronald (2006), membagi faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan alat permainan menjadi lima bagian, antara lain:
1.      Pengetahuan
Dalam memilih alat permainan tidak terlepas kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh orang tua, terutama ibu, yang menjadi orang terdekat dan pendidik pertama di dalam lingkungan keluarga. Hal ini menjadi penting karena idealnya, jika pengetahuan terhadap alat permainan baik maka dalam memilih tidak akan sembarangan melainkan akan lebih selektif, baik dilihat dari segi keamanan benda/alat bermain, bentuk yang dapat merangsang perkembangan, warna, dan manfaatnya. Begitu juga sebaliknya jika pengetahuan terhadap alat permainan kurang maka dalam pemilihannya pun tidak terlalu selektif sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi tidak optimal.
              
2.      Sikap
Sikap memiliki bentuk atau reaksi tertutup dalam diri seseorang. Sikap juga mempengaruhi dalam pemilihan alat permainan. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik terhadap alat permainan belum tentu akan mencerminkan sikap yang baik pula. Oleh karena itu dalam melakukan pemilihan alat permainan dibutuhkan keseimbangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan sikap.

3.      Lingkungan (Tempat Bermain)
Lingkungan tempat bermain anak mempengaruhi pemilihan dalam alat permainan. Lingkungan bisa dilihat dari luasnya lingkungan tempat anak bermain. Jika tempat bermainnya luas, maka anak akan merasa leluasa untuk melakukan permainan yang ia inginkan akan tetapi jika tempat bermainnya sempit, maka anak merasa tidak leluasa melakukan permainan yang ia inginkan. Sebagai contoh anak yang diberi mainan bola jika dilakukan ditempat tertutup dan sangat sempit, maka anak tidak akan mau bermain tetapi jika diajak ditempat yang terbuka seperti lapangan, anak akan lebih termotivasi untuk bermain dengan bola tersebut.

4.      Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi keluarga anak juga mempengaruhi dalam menentukan alat permainan anak. Jika anak tersebut dari keluarga yang kaya, maka permainan yang ia lakukan memiliki alat permainan yang modern dengan harga yang mahal akan tetapi cenderung bersifat individualis mengakibatkan anak bersifat egois dan lingkungan bermainnya pun terbatas hanya pada lingkungannya sendiri. Sedangkan, jika anak tersebut berasal dari keluarga yang mampu maupun miskin, maka permainan yang ia lakukan memiliki alat permainan yang sederhana dan tradisional dengan harga yang terjangkau bahkan tidak dibeli dan dapat dibuat sendiri dari barang bekas dan dari alam. Dan sesama anak dari kelurga yang mampu maupun miskin cenderung bersifat sosial dan jiwa berbagi tertanam pada diri anak.

5.      Peran Orang Tua
Orang tua merupakan faktor penting dalam menentukan alat permainan yang tepat bagi anak. Sebaiknya orang tua ikut bermain bersama anak walau terkadang anak menginginkan untuk bermain sendiri. Ketika anak membutuhkan kehadiran orang lain maka orang tua perlu hadir untuk membantu sehingga fungsi dari alat permainan tercapai dan dapat ditangkap dengan maksimal oleh anak.



2.2.2. Konsep Sikap
2.2.2.1.  Sikap Secara Umum
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek dan menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. (Notoatmodjo, 2005)
Menurut Newcomb dalam Notoadmodjo (2010). Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk merupakan suatu tindakan atau aktifitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka.
Rekawati (2002 menyatakan bahwa pengetahuan merupakan dasar seseorang untuk bersikap. Dalam proses pembentukan sikap, tidak selalu harus menghasilkan respon yang positif karena hal itu tergantung dari bagaimana seseorang tersebut menerima dan menyadari akan informasi yang didapat secara positif atau negatif (Azwar, 2005).

Sikap memiliki beberapa tingkatan antara lain:
A.    Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek)

B.     Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dan sikap.

C.     Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah indikasi sikap tingkat tiga.
D.    Bertanggung Jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi (Notoadmodjo, 2010).

Hasil dari pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menggunakan skala ukur ordinal. Skor yang sering ditulis untuk mempermudah dan menganalisis data pada variabel pengelompokan sikap yaitu sikap positif dan negatif (Arikunto, 2006).

2.2.2.2. Sikap Ibu dalam Pemilihan Alat Permainan (Adelar, 2010)
A.    Dapat menyesuaikan alat permainan dengan usia anak. Misalnya, balita perlu mengenal warna, melatih koordinasi motorik halus, belajar duduk diam untuk waktu cukup lama, keseimbangan gerakan motorik kasar baik, mengembangkan kosakata. Sedangkan batita umumnya lebih membutuhkan perangsangan sensoris dan mengembangkan koordinasi motorik kasar, sehingga jenis permainan pun harus disesuaikan.

B.     Lebih selektif dalam memilah dan memilih alat permainan bagi anak yang sesuai dengan masa tumbuh kembangnya.

C.     Dapat membedakan alat-alat permainan yang sesuai dengan usia anak, khususnya usia 1-3 tahun.

D.    Dapat mengetahui dampak dari setiap alat permainan yang diberikan pada anak. Apakah bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya, ketajaman persepsi visual, ketrampilan motorik halus atau kasar, merangsang imaginasi, mengembangkan daya kreasi, melatih ekspresi emosi, membantu konsentrasi dan melatih daya ingat atau hanya bersikap menghibur anak.

E.     Tidak memaksa anak untuk bermain dengan pilihan alat permainan yang dipilihkan oleh orangtua, terutama ibu. Karena hal tersebut dapat membuat anak menjadi frustasi dan stress sehingga perkembangan emosionalnya terganggu.

F.      Memberikan alat permainan yang bersifat edukatif dan mengetahui fungsinya.

G.    Memperhatikan alat permainan yang diberikan dilihat dari segi keamanan, bentuk, warna dan lain-lain.

H.    Alat permainan yang edukatif tidak harus didapat dengan cara membeli hingga pada tarif yang sangat mahal tetapi bisa dengan buatan tangan sendi.

2.2.3.   Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Usia 1-3 Tahun
Stimulasi adalah rangsangan yang datangnya dari lingkungan di luar individu anak (Soetjiningsih, 1996 dalam Mahmud, 2010). Stimulasi dini adalah rangsangan yang datang dari lingkungan luar anak antara lain berupa latihan atau bermain (Narendra, 2002).
Stimulasi merupakan cikal bakal proses pembelajaran anak. Pemberian stimulasi sebaiknya diberikan lebih awal tiap masa tumbuh kembangnya. Pada tiga tahun pertama kehidupan, otak adalah organ yang sangat berat tumbuh kembangnya. Periode ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan stimulasi (Surjadi, 2005). Stimulasi merupakan bagian dari kebutuhan dasar anak yaitu asah. Memberikan stimulasi dapat dilakukan dengan latihan dan bermain dengan menggunakan alat permainan yang tepat dengan tahap usia anak. Anak yang mendapat stimulus yang terarah akan cepat berkembang dibanding anak yang kurang mendapat stimulus. Stimulus yang diberikan mencakup 4 bidang yaitu kemampuan bergaul dan mandiri (BM), kemampuan berbicara, bahasa, kecerdasan (BBK), kemampuan gerak kasar (GK) dan kemampuan gerak halus (GH). (Soekresno, 2007)

Berikut ini stimulus yang diperlukan bagi perkembangan anak menurut Suherman (2000) :
A.  Umur 12 – 18 bulan
Melatih anak naik turun tangga (GK), bermain melempar dan menangkap bola besar kemudian bola kecil (GH), melatih anak untuk menunjuk dan menyebutkan nama-nama bagian tubuh (BBK), beri kesempatan anak untuk melepas pakaian sendiri (BM).

B.  Umur 18 – 24 bulan
Melatih anak berdiri dengan satu kaki (GK), mengajari menggambar bulatan, garis, segitiga dan gambar wajah (GH), melatih anak mengikuti perintah sederhana (BBK) melatih anak mau ditinggal untuk sementara waktu (BM).

C.   Umur 2 – 3 tahun
Melatih anak melompat dengan satu kaki (GK), mengajak anak bermain menyusun balok (GH), melatih mengenal bentuk warna (BBK), melatih mencuci tangan, kaki, serta mengeringkannya sendiri (BM).

Pemberian stimulasi baik dilakukan sedini mungkin. Karena semakin dini dan semakin lama stimulasi yang diberikan maka akan semakin besar dan lama manfaat yang diterima anak untuk perkembangannya. Stimulasi juga dapat menunjang perkembangan mental psikososial (agama, etika, moral, kepribadian, kecerdasan, kreativitas, keterampilan, dan sebagainya). Dewi (2010) menjelaskan manfaat stimulasi dapat dilihat dari perkembangan setiap bagian otaknya antara lain :
A.    Memberikan rangsangan pada otak kiri dapat mengasah kemampuan yang sifatnya konvergen (menyempit dan menajam) sebagai berikut :
1.      Berbicara
2.      Tata bahasa
3.      Baca-tulis-hitung
4.      Daya ingat
5.      Bersifat logis, analitis, dan rasional
6.      Kecerdasan pendidikan formal

B.     Memberikan rangsangan pada otak kanan dapat mengasah kemampuan yang bersifat divergen (melebar dan meluas) seperti sebagai berikut:
1.      Berperasaan, gaya bahasa
2.      Sifat waspada, daya konsentrasi
3.      Pengenalan diri dan lingkunga
4.      Senang musik
5.      Sosialisasi
6.      Sifat berkhayal, kesenian, dan agama
7.      Kreatif dan produktif

C.     Kecerdasan multipel (majemuk) : kerjasama otak kanan dan kiri
1.      Verbal linguistic : merangkai kalimat dan bercerita
2.      Logika- matematika : pemecahan masalah
3.      Visual spasial : berpikir 3 dimensi dan stereometris
4.      Jasmani-kinestetik : gerak, tari, dan olahraga
5.      Musik : bunyi, nada, irama, lagu dan musik
6.      Intrapersonal : memahami dan mengontrol diri sendiri
7.      Interpersonal : memahami dan menyesuaikan dengan orang lain
8.      Naturalis : menikmati dan mmanfaatkan lingkungan
9.      Spiritualis : moral, rohani, dan ketuhanan

2.2.4.  Kesalahan – Kesalahan Didalam Memilih Alat Permainan
Tujuh kesalahan yang sering dibuat dalam memilih alat permainan (Soetjinigsih, 2006) antara lain:
1.      Orang tua memberikan sekaligus banyak macam alat permainan. Padahal pada umumnya anak-anak suka mengulang-ulang alat permainan yang sama.
2.      Banyak orang tua membeli alat permainan dengan alasan lebih menraik dan indah tetapi tidak berpikir apa yang akan dilakukan anak terhadap alat permainan tersebut.
3.      Banyak orang tua membayar terlalu mahal utuk alat permainan, tanpa menyadari bahwa alat permainan yang dibuat sendiri dapat lebih bermanfaat dan hemat.
4.      Alat permainan yang terlalu lengkap/banyak sehingga sedikit peluang bagi anak akan melakukan eksplorasi dan konstruksi terhadap alat permainan.
5.      Alat permainan yang tidak sesuai dengan umur anak, anak terlalu tua atau terlalu muda terhadap alat permainan tersebut sehingga maksud dan tujuan dari alat permainan tidak tercapai.
6.      Memberikan terlalu banyak alat permainan dengan tipe yang sama
7.      Banyak orang tua yang tidak meneliti keamanan dari alat permainan yang dibelikan untuk anak.

2.2.5.  Kerangka Teori Menurut  Lawrance Green
Pada teori Lawrance Green (1980) dalam Notoatmodjo (2010), beliau menjelaskan bahwa perilaku manusia dilatarbelakangi atau dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu:

A.    Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)
Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan, sikap, tradisi,  kepercayaan, sistem nilai yang dianut masyarakat, pendidikan, dan sebagainya. faktor ini terutama yang positif mempemudah terjadinya perilaku, dan status sosial ekonomi, maka sering disebut faktor pemudah.

B.     Faktor Pemungkin (Enabling Factor)
Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, seperti fasilitas adanya puskesmas, posyandu, poliklinik, dan lain sebagainya.

C.     Faktor Pendorong (Reinforcing Factor)
Faktor-faktor ini mliputi tokoh masyarakat, tokoh agama, dan petugas kesehatan. Termasuk undang-undang dan peraturan pemerintah baik dari pusat maupun daerah yang terkait dengan kesehatan.




















2.3.            Kerangka Teori
Berdasarkan teori dari Lawrance Green (1980) dalam Notoatmodjo (2010), maka kerangka teori yang dapat dibuat secara skematis adalah :

Skema 2.1.
Kerangka Teori

Text Box: Faktor Predisposisi :

q Pengetahuan
q Keyakinan 
q Nilai 
q Sikap 
q Tingkat Pendidikan
q Status Sosial Ekonomi


 


                                                                                                             

      
                       



 








                                                                                                                 
 







BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL,
dan  HIPOTESIS

3.1. Kerangka Konsep

Berdasarkan teori Lawrance Green (1980) dalam Notoatmodjo (2010), maka kerangka konsep dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen (Pemilihan alat permainan anak usia 1-3 tahun) dan variabel independen (Pengetahuan dan sikap ibu) secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut :


Skema 3.1.
Kerangka Konsep Penelitian










     Pengetahuan

 



 Pemilihan Alat permainan untuk stimulasi anak usia 1-3 tahun
 





Sikap

 







3.2. Definisi Operasional

Tabel 3.1.
Definisi Operasional Penelitian

No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
1.









2.













3.



  



Pemilihan Alat permainan anak usia 1-3 tahun





Pengetahuan Ibu tentang alat permainan anak usia 1-3 tahun








Sikap ibu Tentang alat permainan untuk anak usia 1-3 tahun




Suatu cara untuk penentuan  alat bermain yang tepat untuk merangsang fungsi setiap perkembangan anak usia 1-3 tahun

Segala sesuatu yang diketahui ibu tentang alat permainan yang sesuai dengan anak usia 1-3 tahun







Tanggapan atau respon ibu  tentang alat permainan yang sesuai dengan anak usia 1-3 tahun



Angket









Angket













Check List












Kuesioner








Kuesioner












Kuesioner









1 = Tepat, jika skor jawaban responden median (3,0)
2 = Tidak Tepat, jika skor jawaban responden < median (3,0)

1 = Baik, jika jawaban responden benar mencapai median (12,0)
2 = Kurang jika jawaban responden benar mencapai < median (12,0)


1 = Positif, jika skor  jawaban responden  median (45,5)

2 = Negatif, jika skor jawaban responden < median (45,5)



Ordinal









Ordinal













Ordinal










3.3. Hipotesis

3.3.1. (H0) :  Tidak ada Hubungan Pengetahuan Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka  Sukarame Palembang

                  (Ha): Ada Hubungan Pengetahuan Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka  Sukarame Palembang

3.3.2. (H0) : Tidak ada Hubungan Sikap Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka  Sukarame Palembang

(Ha) : Ada Hubungan Sikap Ibu terhadap Pemilihan Alat Permainan untuk Stimulasi Tumbuh Kembang pada Anak Usia 1-3 Tahun di PAUD Basoka  Sukarame Palembang





BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian
       Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey analitik, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan hubungan korelatif antara dua variabel, dengan pendekatan Cross Sectional yaitu suatu jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan variabel dependen hanya satu kali, pada satu saat (Nursalam, 2008). Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (pengetahuan dan sikap ibu) dengan variabel dependen (pemilihan alat permainan untuk stimulasi anak usia 1-3 tahun)  di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011.

4.2. Populasi Penelitian
            Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun yang tercatat dalam kelompok bermain di PAUD Basoka Sukarame Palembang tahun 2011 yang berjumlah 30 orang .

4.3. Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun yang tercatat dalam kelompok bermain di PAUD Basoka Sukarame Palembang tahun 2011 yang berjumlah 30 orang. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah total sampling yaitu dengan mengambil semua jumlah populasi yang ada.
                              
4.4. Lokasi dan Waktu Penelitian
        4.4.1. Lokasi Penelitian
                  Penelitian ini dilakukan di PAUD Basoka Sukarame Palembang 
                  Tahun 2011.


        4.4.2. Waktu Penelitian
     Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Maret – Juni 2011.

4.5. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti harus membawa surat rekomendasi dari institusi dengan cara mengajukan permohonan izin kepada tempat penelitian yang dituju oleh peneliti. Setelah mendapat persetujuan, barulah peneliti dapat melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi  :

A.     Informed Consent
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti. Bila responden menolak, maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus menghormati hak-hak responden.

B.     Anonymity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi pada lembar tersebut diberikan kode pengganti nama responden.

C.  Confidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
(Hidayat, 2007)

4.6. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
       4.6.1.     Sumber Data
            Data Primer
            Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden   melalui pengisian kuesioner yang telah disiapkan atau data pribadi dari sampel berupa jawaban terhadap pertanyaan dalam kuesioner tersebut.
          4.6.2.   Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dari penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket yang telah disusun oleh peneliti.

          4.6.3.   Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data berupa   daftar pertanyaan atau kuesioner sebagaimana terlampir. Adapun pertanyaan yang diajukan meliputi :
A.  Data Umum tentang karakteristik dengan pertanyaan terbuka
      mengenai nama ibu, pendidikan, dan umur anak.
      
            B.  Data Khusus
            Data khusus terdiri :
1.      Variabel Dependen (Pemilihan alat permainan anak usia 1-3 tahun) menggunakan kuesioner terbuka terdiri dari 3 lembar kertas. Kuesioner tersebut akan diberikan kepada responden berdasarkan umur anak. Dengan kategori penilaian berdasarkan fungsi alat permainan setiap usia 1-3 tahun antara lain :
a.       Usia 1 tahun
1)      Melatih anak untuk dapat mengenal sumber suara dalam perkembangan sensoriknya (pada usia ini, anak belum tertarik untuk mencari sumber suara, hanya akan mendengar dan melihat)
2)      Melatih kemampuan motorik halus dengan mainan yang dapat digoyang
3)      Melatih perkembangan otak/kecerdasan dengan mainan yang  memiliki warna-warna yang cerah dari kertas
4)      Melatih koordinasi anggota gerak dengan mainan yang digantung dari kertas

b.      Usia 2 tahun
1)      Mencari sumber suara/ mengikuti sumber suara.
2)      Memperkenalkan sumber suara
3)      Melatih anak melakukan gerakan mendorong atau menarik
4)      Melatih imajinasi

c.       Usia 3 tahun
1)      Menyalurkan emosi/perasaan anak
2)      Mengembangkan keterampilan berbahasa
3)      Melatih motorik halus dan kasar
4)      Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal, dan membedakan warna)
(Hidayat, 2005)

Setiap alat permainan yang telah ditulis responden yang  memiliki fungsi dari perkembangan sesuai usia di atas akan diberi nilai 1, jika tidak diberi nilai 0 sehingga nilai maksimal 4 dan minimal 0.  Jika memenuhi minimal 3 fungsi atau ≥ median maka pemilihan alat permainan dikatakan tepat. Jika kurang dari 3 fungsi atau < median maka pemilihan alat permainan tidak tepat.
           
2.      Variabel Independen
a.       Pengetahuan Ibu tentang alat permainan untuk stimulasi tumbuh kembang pada anak usia 1-3 tahun yang terdiri dari 15 pertanyaan tertutup (close ended) dengan 4 pilihan jawaban (a,b,c,d). Bila jawaban benar maka diberi skor 1 dan jika jawaban salah maka diberi skor 0.
b.      Sikap Ibu tentang alat permainan untuk stimulasi tumbuh kembang pada anak usia 1-3 tahun yang terdiri dari 15 pertanyaan, 8 pertanyaan positif yaitu nomor 1, 2, 3, 4, 5, 8, 10, 12
Untuk penilaian pertanyaan positif:
Sangat Setuju                   (SS)                 : diberi nilai 4
Setuju                               ( S )                 : diberi nilai 3
Tidak Setuju                     (TS)                 : diberi nilai 2
Sangat Tidak Setuju         (STS)               : diberi nilai 1

Dan 7 pertanyaan bersifat negatif yaitu nomor 6, 7, 9, 11, 13, 14, 15
Untuk penilaian pertanyaan negatif :
Sangat Setuju                   (SS)                 : diberi nilai 1
Setuju                               ( S )                 : diberi nilai 2
Tidak Setuju                     (TS)                 : diberi nilai 3
Sangat Tidak Setuju         (STS)               : diberi nilai 4

4.6.4.      Uji Validitas
                        Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah alat ukur yang digunakan benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2002). Uji validitas penelitian dilakukan untuk kuesioner pengetahuan dan sikap. Didapatkan hasil dari 20 pertanyaan pengetahuan terhadap 10 responden, ditemukan pertanyaan pengetahuan yang valid hanya 15 dan sisanya yang tidak valid dibuang atau dihilangkan dari daftar pertanyaan pengetahuan. Sedangkan sikap ditemukan 14 yang valid dan telah diperbaiki.

4.6.5.      Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal dan tidak normalnya suatu distribusi data pada suatu penelitian. Uji ini dilakukan pada setiap variabel dengan menggunakan  tes kolmogorov-smirnov dan didapatkan bahwa setiap variabel yaitu pemilihan alat permainan, pengetahuan dan sikap masing-masing pada significant 0,00, 0,03, dan 0,08 yang berarti data tidak normal. pada hasil ukur menggunakan median sebagai patokan suatu penelitian.

4.7. Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan salah satu rangkaian kegiatan setelah kegiatan pengumpulan data. Pada penelitian dengan pendekatan kuantitatif, kita kenal cara mengolah data yaitu empat langkah sebagai berikut (Hastono, 2001) :

4.7.1.       Editing (Pengeditan)
Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir pertanyaan atau kuesioner, apakah jawaban yang ada di kuesioner sudah :
A.    Lengkap       :  semua pertanyaan sudah terisi jawabannya
B.     Jelas             :   jawaban pertanyaan apakah tulisannya cukup
                         jelas terbaca
C.     Relevan        :   pertanyaan yang tertulis apakah relevan dengan       
                         jawabannya
D.    Konsisten     :  apakah antara beberapa pertanyaan yang berkaitan  
                        isi jawabannya konsisten.
4.7.2.      Coding (Pengkodean)
Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan.

4.7.3.      Processing (Pemrosesan/Pengolahan Data)
Merupakan kegiatan memasukan atau meng-entry data dari kuesioner ke paket program komputer.

4.7.4.      Cleaning (Pembersihan Data)
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak. Pemprosesan data dilakukan dengan cara meng-entry  data dari kuesioner ke paket program komputer.

4.8. Analisa Data
4.8.1.      Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel penelitian. Penelitian  ini meliputi variabel dependen (Pemilihan Alat Permainan Anak Usia 1-3 Tahun) dan variabel independen (Pengetahuan dan Sikap Ibu)  (Notoatmodjo, 2010).

4.8.2.      Analisis Bivariat
Analisis Bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel independen (Pengetahuan dan Sikap Ibu) dengan variabel dependen (Alat Permainan Anak Usia 1-3 Tahun). Analisa statistik bivariat pada penelitian ini menggunakan uji X2 atau uji Kai Kuadrat (Chi Square Test) dengan Confidence Interval (CI) 95%.

Keputusan yang diambil dari uji Chi - Square adalah:
a.       Bila p value < 0,05 H0 (Hipotesis Nol) ditolak, berarti ada hubungan bermakna (signifikan) secara statistik antara variabel dependen dengan variabel independen.
b.      Bila p value >  0,05 H0 (Hipotesis Nol) gagal ditolak, berarti tidak ada hubungan bermakna (signifikan) secara statistik antara  variabel dependen dengan independen.
(Hastono, 2001).




BAB V
HASIL PENELITIAN

5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Gambaran umum PAUD Basoka Sukarame Palembang yang beralamat di Jalan Sukawinantan Rt. 54 Kecamatan Sukarame Palembang. PAUD Basoka merupakan salah satu PAUD yang masih aktif di Kecamatan Sukarame yang sudah berdiri sejak tahun 2007 dan telah mendapatkan izin pada tanggal 4 April 2007. Adapun struktur Organisasi dari PAUD Basoka sendiri adalah sebagai berikut :
STRUKTUR  ORGANISASI






PENGELOLA
M. Zahri
 


 













           
Selain itu PAID Basoka juga merupakan salah satu PAUD yang cukup berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang pernah diraih oleh para anak didik di PAUD pada tahun 2010/2011, antara lain :
1.      Juara I Lomba Mewarnai Dalam Rangka HUT Palembang POS
2.      Juara I Lomba Mewarnai Dalam Rangka Hari Bumi
3.      Juara I Lomba Mewarnai Dalam Rangka Hari Pendidikan Anak Nasional


5.2. Sarana PAUD Basoka Sukarame Palembang
PAUD Basoka terdiri dari dua kelas yaitu kelas A untuk usia anak 1-3 tahun yang saat ini berjumlah 30 orang anak dan kelas B yaitu untuk usia 4-6 tahun yang saat  ini berjumlah 24 orang anak. Kemudian satu ruangan pendidik, berbagai alat permainan seperti perosotan, mandi bola, ayunan, dan lain sebagainya yang digunakan untuk media pembelajaran anak.

5.3. Visi dan Misi
5.3.1 Visi
Menghasilkan Lulusan yang Sehat, Cerdas, Ceria dan Berakhlak Terpuji
5.3.2. Misi
5.3.2.1 Melatih kecerdasan anak didik, sehingga mampu mengembangkan potensi dirinya.
5.3.2.2.     Memiliki keterampilan yang berpotensi untuk kecakapan hidupnya kelak
5.3.2.3.     Mendidik anak didik menjadi anak yang sehat jasmani, rohani, berbudi dan berakhlak mulia serta iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5.4. Analisa Univariat
5.4.1. Pemilihan Alat Permainan
Diagram Lingkar 5.1.
Distribusi Frekuensi Pemilihan Alat Permainan
Di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011
Berdasarkan diagram 5.1.didapatkan data bahwa sebagian besar responden (56,7%) sudah tepat dalam pemilihan alat permainan untuk anak sedangkan sisanya (43,3%) tidak tepat.

5.4.2. Pengetahuan Ibu
Diagram Lingkar 5.2.
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu tentang Pemilihan
Alat Permainan Di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011

Berdasarkan diagram lingkaran 5.2. didapatkan data bahwa  responden yang berpengetahuan baik (53,3%) lebih besar dibandingkan dengan responden yang berpengetahuan kurang  (46,7%).

5.4.3. Sikap Ibu
Tabel 5.1.
Distribusi Frekuensi Sikap Ibu tentang Pemilihan Alat Permainan
Di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011

Sikap
Jumlah
Persentase (%)
Positif
15
50,0
Negatif 
15
50,0



Berdasarkan tabel 5.1. di atas menunjukkan bahwa persentase antara sikap positif dan negatif yang dimiliki responden adalah sama yaitu masing-masing sebesar 50,0% sehingga tidak ada yang menunjukkan sikap yang dominan lebih besar atau lebih kecil.

5.5. Analisa Bivariat
Analisis Bivariat dilakukan dengan tabulasi silang (Crosstab) dan Uji Chi Square untuk menemukan bentuk hubungan statistik antara variabel independen (Pengetahuan Ibu dan Sikap Ibu) dengan variabel dependen (Pemilihan alat Permainan).
Hasil analisis bivariat ini menemukan hubungan masing-masing variabel independen dengan variabel dependen.

5.5.1. Hubungan Pengetahuan Ibu Terhadap Pemilihan Alat Permainan
Tabel 5.2.
Distribusi Pengetahuan Ibu Terhadap Pemilihan Alat Permainan
Di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011

Pengetahuan
Pemilihan Alat Permainan
Total
p value
Tepat
Tidak Tepat
n
%
n
%
N
%

Baik
Kurang
10
7
62,5
50,0
6
7
37,5
50,0
16
14
100
100
0,011
Total
17
56,7
13
43,3
30
100


Berdasarkan tabel 5.2. di atas menunjukkan hasil analisis proporsi antara pengetahuan dengan pemilihan alat permainan diperoleh bahwa ibu  yang tepat dalam memilih alat permainan anak dengan pengetahuan baik lebih besar (62,5%) dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan kurang sebesar (50,0%)


Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Chi -Square diperoleh p value (0,011) < α (0,05). Hal ini berarti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan ibu dengan pemilihan alat permainan anak usia 1-3 tahun.

5.5.2. Hubungan Sikap Ibu Terhadap Pemilihan Alat Permainan
Tabel 5.3.
Distribusi Sikap Ibu Terhadap Pemilihan Alat Permainan
Di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011

Sikap
Pemilihan Alat Permainan
Total
p value
Tepat
Tidak Tepat
n
%
n
%
N
%

Positif
Negatif
9
8
60,0
53,3
6
7
40,0
46,7
15
15
100
100
0,045
Total
17
56,7
13
43,3
30
100


Berdasarkan tabel 5.3. di atas menunjukkan hasil analisis proporsi antara sikap dengan pemilihan alat permainan diperoleh bahwa sebagian besar ibu yang tepat dalam memilih alat permainan anak mempunyai sikap positif (60,0%) sedangkan  selebihnya memiliki sikap negatif sebesar (53,3%).
 Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Chi- Square diperoleh p value (0,045) < α (0,05). Hal ini berarti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara sikap ibu dengan pemilihan alat permainan anak usia 1-3 tahun.









BAB VI
PEMBAHASAN

6.1  Keterbatasan Penelitian
Peneliti masih mengalami keterbatasan dalam hal jumlah sampel penelitian yang masih sedikit untuk memperoleh hasil analisis yang lebih akurat dan lebih baik.

6.2 Pembahasan Hasil Penelitian
6.2.1.   Anaisis Univariat
            6.2.1.1. Pemilihan Alat Permainan
Dari hasil penelitian dapat digambarkan bahwa sebagian besar Ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun yang mengikuti pendidikan di PAUD Basoka Sukarame Palembang sudah tepat (56,7%) dalam memilih alat permainan. Hal ini dikarenakan mayoritas responden memiliki latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Menurut Kurt Lewin yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), pendidikan formal yang diterima seseorang akan mempengaruhi tindakan dalam melaksanakan suatu kegiatan. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin tinggi pula kemampuan untuk menyerap dan menerima informasi sehingga pengetahuan dan wawasan lebih luas dan akan mempengaruhi pula perilaku seseorang yang dapat dilihat dari sikapnya. Dalam  hal ini pemilihan alat permainan merupakan suatu tindakan yaitu memilih sehingga diperlukan informasi yang lebih banyak tentang alat permainan untuk dapat melakukan tindakan pemilihan yang tepat untuk anak.
Alat permainan merupakan salah satu alat untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak (Soetjiningsih, 2006). Anak memerlukan alat permainan yang bervariasi agar tidak cepat bosan. Alat permainan tidak harus didapat dengan cara membeli tetapi bisa dengan cara membuat sendiri (Musbikin, 2010). Dalam memilih alat mainan untuk anak tidak boleh dilakukan secara sembarangan melainkan harus tepat guna dan sasaran (Mahmud, 2010). Hal ini didukung oleh teori Ismail (2009) bahwa dalam memilih alat permainan untuk anak dibutuhkan ketelitian dan pengetahuan yang harus disesuaikan dengan usia tumbuh kembang sehingga pertumbuhan dan perkembangan pada anak menjadi optimal .
Selain memberikan alat pemainan yang tepat, kebutuhan lain yang tidak kalah penting adalah kehadiran orang tua, terutama ibu, untuk menemani anak dalam bermain. Hal ini dilakukan agar pesan edukatif dan manfaat yang diterima oleh anak dapat tersampaikan secara maksimal melalui bantuan arahan dari orang tua (Dewi, 2010).  Menurut pendapat Fajriananda (2008) bahwa anak akan dapat bermain dengan manfaat yang besar apabila orang dewasa yang ada disekitar anak juga mengetahui sisi kegunaan mainan tersebut. Namun kenyatannya, sebagian besar responden masih membiarkan anaknya untuk bermain sendiri dengan alat mainan yang diberikan tanpa menemani anak bermain.

6.2.1.2.            Pengetahuan Ibu Tentang Pemilihan Alat Permainan
Dari hasil penelitian dapat digambarkan bahwa sebagian besar Ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun yang mengikuti pendidikan di PAUD Basoka Sukarame Palembang sudah mempunyai pengetahuan yang baik (53,3%) dalam memilih alat permainan yang sesuai untuk anak. Hal ini dikarenakan mayoritas responden memiliki latarbelakang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Penelitian  ini sejalan dengan pendapat Mahyub (2010) yang mengatakan bahwa pendidikan seseorang juga dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup.
Peningkatan pengetahuan seseorang dapat diperoleh dari hasil pengalaman mendengar, melihat informasi yang memberikan hasil tertentu. Menurut teori WHO (World Health Organization) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007) bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui melihat, mendengar, selain itu juga dapat diperoleh melalui pengalaman dan proses pendidikan baik yang bersifat formal dan informal. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Ronald (2010) yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan alat permainan adalah pengetahuan. Dalam memilih alat permainan tidak terlepas kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh orang tua, terutama ibu, yang menjadi orang terdekat dan pendidik pertama di dalam lingkungan keluarga. Hal ini menjadi penting karena idealnya, jika pengetahuan terhadap alat permainan baik maka dalam memilih, tidak akan sembarangan melainkan akan lebih selektif, baik dilihat dari segi keamanan benda/alat bermain, bentuk yang dapat merangsang perkembangan, warna, dan manfaatnya. Begitu juga sebaliknya jika pengetahuan terhadap alat permainan kurang maka dalam pemilihannya pun tidak terlalu selektif sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi tidak optimal.



6.2.1.3.            Sikap Ibu Tentang Pemilihan Alat Permainan
Dari hasil penelitian dapat digambarkan bahwa frekuensi antara sikap positif dan negatif adalah sama yaitu masing-masing (50,0%). Hal ini menunjukkan bahwa sikap seseorang yang dimiliki tidak selalu ditentukan dari tingkat pengetahuan saja, artinya jika pengetahuannya baik belum tentu mencerminkan sikap yang baik atau positif pula melainkan banyak faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya sikap.
Menurut Azwar (2005) bahwa terbentuknya sikap dapat dipengaruhi oleh faktor pengalaman pribadi, orang lain yang dianggap penting, media massa, pengaruh kebudayaan, pengaruh emosional. Sehingga dalam proses terbentuknya pun tidak selalu dilihat dari tingkat pengetahuan karena sikap merupakan suatu respon yang bersifat tertutup yang akan memberikan pengaruh terhadap tindakan selanjutnya. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo yang menyatakan bahwa sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek dan menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. (Notoatmodjo, 2005)
Dalam proses pembentukan sikap, tidak selalu harus menghasilkan respon yang positif karena hal itu tergantung dari bagaimana seseorang tersebut menerima dan menyadari akan informasi yang didapat secara positif atau negatif (Azwar, 2005). Salah satunya karena seseorang tersebut memiliki sikap pada tingkatan menerima (Receiving), Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Tetapi belum mau merespon dan bertanggung jawab serta melakukan anjuran yang diberikan.
Karena sikap masih merupakan reaksi yang tertutup sehingga dalam tindakannya pun (pemilihan alat permainan) tidak selalu dapat diukur dengan pengetahuan yang baik pula. Beberapa responden juga mengaku bahwa informasi yang didapatkan tentang alat permainan anak sebagian besar dari teman, tetangga, dan media elektronik sehingga walaupun pengetahuan rendah tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mempunyai sikap positif untuk lebih selektif dan mampu memilih alat permainan yang tepat bagi anak.
Pendapat ini tidak sejalan dengan pendapat Rekawati (2002) yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan dasar seseorang untuk bersikap. Sebagian besar pengetahuan responden baik sehingga sangat mendukung responden untuk bersikap positif terhadap perilaku dalam memilih alat permainan yang diharapkan.
6.2.2.   Analisis Bivariat
6.2.2.1. Pengetahuan Ibu Terhadap Pemilihan Alat Permainan Di PAUD  Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011
Dari hasil analisis proporsi didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan  ibu dengan pemilihan alat permainan. Pengetahuan yang dimiliki oleh ibu merupakan hasil ”tahu” dan ini terjadi setelah mengadakan penginderaan terhadap informasi yang didapat mengenai alat permainan melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rasa. Kemudian informasi tersebut akan direspon yang dapat menimbulkan suatu ketertarikan atau penolakan terhadap suatu informasi yang diterima. Sehingga akan mempengaruhi ibu dalam melakukan tindakan yaitu dalam memilih alat permainan  untuk anak. Oleh karena itu dengan pengetahuan yang baik, diharapkan dapat timbul respon yang positif sehingga dalam pemilihan alat permainan anak, ibu dapat melakukannya dengan tepat untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai usia.
Menurut teori WHO (World Health Organization) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007) bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui melihat, mendengar, selain itu juga dapat diperoleh melalui pengalaman dan proses pendidikan baik yang bersifat formal dan informal. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu yang akan mempengaruhi perilaku.
Tingkat pengetahuan ini juga didukung dari tingkat pendidikan responden yang menunjukkan sebagian besar adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) dan hal ini juga mungkin dikarenakan semakin banyaknya media elektronik yang memberikan informasi tentang alat permainan. Menurut Notoatmodjo (2003), Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu, juga mempengaruhi sikap dan tindakan dalam melaksanakan kegiatan. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin besar kemampuannya untuk menyerap dan menerima informasi sehingga pengetahuan dan wawasan lebih luas.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Ronald (2010) yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan alat permainan adalah pengetahuan. Dalam memilih alat permainan tidak terlepas kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh orang tua, terutama ibu, yang menjadi orang terdekat dan pendidik pertama di dalam lingkungan keluarga. Hal ini menjadi penting karena idealnya, jika pengetahuan terhadap alat permainan baik maka dalam memilih, tidak akan sembarangan melainkan akan lebih selektif, baik dilihat dari segi keamanan benda/alat bermain, bentuk yang dapat merangsang perkembangan, warna, dan manfaatnya. Begitu juga sebaliknya jika pengetahuan terhadap alat permainan kurang maka dalam pemilihannya pun tidak terlalu selektif sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi tidak optimal.
Hasil diatas sejalan dengan yang dikemukakan Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan  domain yang penting untuk terbentuknya  tindakan seseorang. Pengetahuan sangat erat sekali hubungannya dengan perilaku, karena segala sesuatu yang didapat melalui proses penginderaan dapat diapresiasikan kedalam tindakan.
Dari hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar responden yang tepat dalam memilih alat permainan dengan pengetahuan yang baik sebesar 52,5%. Penelitian terkait yang dilakukan Prasetyaningrum (2009) tentang pemilihan alat permainan diperoleh sebesar 70% sudah tepat dalam memilih alat permainan dengan pengetahuan yang baik. penelitian ini menyatakan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemilihan alat permainan anak dengan p value 0,001. Hal ini dikarenakan sebagian besar ibu sudah mendapat pengetahuan mengenai alat permainan melalui penyuluhan yang sering dilakukan oleh pihak PAUD.
Selain itu penelitian yang dilakukan Dewi (2008) mengatakan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu tentang pemilihan alat permainan edukatif dengan tingkat perkembangan motorik halus pada anak dengan p value 0,01. Menurut pendapat Musbikin (2010), Alat permainan dikatakan tepat jika mengandung unsur edukatif di dalamnya dan sesuai dengan usia tumbuh kembangnya. Alat permainan mempunyai peranan penting sebagai stimulus  dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Hasil penelitian Hurlock (1999) dalam Suyadi (2009), mengatakan bahwa alat permainan yang diberikan saat bermain dapat merangsang perkembangan yang utuh baik secara kognitif, motorik, intelektual, sosial, moral, dan emosional.
Penelitian lain yang sejalan dikemukakan Wardani (2009) yang mengatakan ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan pada alat permainan anak dengan perkembangan anak. Salah satu proses perkembangan anak adalah perkembangan anak karena merupakan awal dari kecerdasan dan emosi sosialnya. Tumbuh kembang anak terdiri dari beberapa tahapan dimana setiap tahapan mempunyai ciri tersendiri salah satunya adalah usia prasekolah. Peran seorang ibu khususnya sangat penting dalam menentukan perkembangan anak, sehingga ibu harus memiliki pengetahuan tentang stimulasi perkembangan anak.
 Pemilihan alat permainan bagi anak merupakan hal yang penting sebagai stimulasi awal untuk tumbuh kembangnya. Dengan adanya pengetahuan atau informasi diharapkan kepada para ibu dapat lebih selektif dalam memilih alat permainan yang tepat bagi anak.
Pengetahuan terhadap pemilihan alat permainan juga tidak hanya dimiliki oleh orang tua melainkan juga harus dimiliki oleh guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Karena pendidikan non formal juga harus mendapatkan informasi yang tepat tentang penggunaan alat permainan yang merupakan hal yang paling penting dalam kegiatan belajar-mengajar di PAUD.
Berdasarkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD tahun 2010 mencapai angka 53,9% dari 29,8 juta anak sudah mendapatkan pendidikan awal bagi anaknya melalui PAUD (Ronald, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua masih mengandalkan PAUD sebagai salah satu tempat belajar anak untuk usia dini. Sedangkan proses belajar anak bukan hanya di PAUD melainkan di rumah sendiri dan hal ini akan terjadi setelah mengikuti kegiatan di PAUD. Karena orang tua adalah guru pertama bagi anak-anak di keluarga, maka guru PAUD adalah pendidik kedua setelah orang tua kandung. Baik guru pertama dan kedua mempunyai peranan penting dalam optimalisasi perkembangan anak. Oleh karena itu diantara keduanya harus mempunyai persepsi yang sama, terutama dalam hal bermain karena masih banyak persepsi orang tua yang menganggap bermain dengan sebelah mata.
Standar PAUD yang efektif adalah yang menjadikan kegiatan bermain sebagai basis belajar-mengajar (Suyadi, 2009). Oleh karena itu guru PAUD harus mempunyai kompetensi bermain yang memadai. Kompetensi tersebut dikenal dengan istilah “ 3-ber“ yaitu bermain, bernyanyi, dan bercerita (Sarbiran, 2009). Kompetensi “3-ber” tersebut hampir tidak dimiliki oleh orang tua. Oleh karena itu guru PAUD lah yang harus melengkapi kekurangan dari orang tua. Walaupun demikian masih banyak guru-guru yang memiliki kemampuan terbatas meskipun mereka bisa bermain, bernyanyi dan bercerita tetapi koleksi jenis permainan, lagu-lagu, dan cerita masih terbatas sehingga hanya mengulang-ulang permainan yang menyebabkan anak menjadi bosan.
Di PAUD Basoka  Sukarame Palembang pemberian informasi mengenai stimulasi anak masih dilakukan walaupun masih sangat jarang sekali terutama untuk alat permainan anak. Hal ini dikarenakan masih kurangnya kemampuan pendidik PAUD yang masih sedikit mempunyai kompetensi 3-ber dan pengetahuan yang lebih luas tentang alat permainan.

6.2.2.2  Sikap Ibu Terhadap Pemilihan Alat Permainan Di PAUD Basoka Sukarame Palembang Tahun 2011
Dari hasil analisis proporsi didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna secara statistik antara sikap dengan pemilihan alat permainan. Sikap yang dimiliki oleh ibu akan mempengaruhi bagaimana perilakunya dalam memilih alat permainan anak. Hal ini tidak terlepas kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh ibu karena pengetahuan merupakan dasar seseorang untuk bersikap (Rekawati, 2002).
Dari pengetahuan yang berisi informasi tersebut, akan direspon oleh sikap. Untuk terbentuknya suatu perilaku, sikap dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti lingkungan, pengaruh orang lain yang dianggap penting, media massa dan lain sebagainya. Semakin banyak pengetahuan yang baik diterima oleh ibu tentang alat permainan anak usia 1-3 tahun maka cenderung menimbulkan sikap yang positif. Oleh karena itu, dengan didukung faktor-faktor lain yang mempengaruhi sikap tersebut, diharapkan timbul perilaku/tindakan yang baik pula dari ibu dalam memilih alat permainan yaitu lebih selektif dan tidak sembarangan dalam memilih alat permainan, sehingga stimulasi yang diberikan melalui alat permainan yang tepat dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal.
 Pada dasarnya sikap tidak bisa terbentuk sendiri karena banyak faktor yang mempengaruhi yang akan menentukan perilaku. Sebelum timbul perilaku di dalam diri seseorang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni dari informasi yang diketahui, kemudian akan timbul rasa ketertarikan sehingga mulai menyadari dan mendalami informasi tersebut. Setelah itu informasi yang diterima akan ditimbang melalui respon yang berupa sikap terdiri dari aspek positif dan negatif. Tahap akhir dari proses ini akan menimbulkan suatu perilaku yang didasari atas sikap yang terbentuk (Azwar, 2005).
Pendapat Rekawati (2002) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan dasar seseorang untuk bersikap. Sebagian besar pengetahuan responden baik sehingga sangat mendukung untuk bersikap positif terhadap perilaku dalam memilih alat permainan yang tepat.
Pada penelitian selanjutnya, Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), menyimpulkan bahwa perilaku yang melalui proses seperti diatas dan didasari oleh pengetahuan, kesadaran yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting) namun sebaliknya jika perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku tersebut bersifat sementara atau tidak akan berlangsung lama.
Hal ini berkaitan dan sesuai dengan pendapat Notoamodjo (2003) dan Walgito (1992). Notoatmodjo mengemukakan bahwa sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang baik atau buruk terhadap suatu objek. Lebih jelasnya bahwa sikap merupakan reaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu pengetahuan objek. Jadi dengan adanya sikap buruk maka ada reaksi yang buruk pula terhadap objek.
Walgito mengatakan sikap merupakan hal yang penting karena memiliki konsep dasar tertentu yang dipilih dan akan mempengaruhi dalam tindakan. Apabila individu memiliki sikap yang positif terhadap stimulus atau objek kesehatan maka ia akan mempunyai sikap yang menunjukkan atau memperlihakan, menerima, mengakui, menyetujui serta melaksanakan norma-norma yang berlaku dimana individu tersebut berada, sebaliknya bila ia memilki sikap yang negatif , maka akan memiliki sikap yang menunjukkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap norma-norma yang berlaku dimana individu tersebut berada.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian Prasetyaningrum (2009) tentang pemilihan alat permainan yang mengatakan bahwa ada hubungan sikap ibu dengan pemilihan alat permainan anak dengan p value 0,01. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Ronald (2010) yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan alat permainan adalah sikap.
Sikap juga mempengaruhi dalam pemilihan alat permainan. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik terhadap alat permainan belum tentu akan mencerminkan sikap yang baik pula. Oleh karena itu dalam melakukan pemilihan alat permainan dibutuhkan keseimbangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan sikap.
Selain itu penelitian yang dilakukan Rossita (2009) mengatakan bahwa ada hubungan antara sikap dan keaktifan ibu dengan pemberian stimulasi yang tepat melalui alat permainan pada anak. Berbagai data dan penelitian menyatakan bahwa bermain dengan menggunakan alat bantu 70% lebih efektif dibandingkan dengan tidak menggunakan alat bantu untuk perkembangan otak anak di 3 tahun pertama usianya (Bermain Stimulus, 2010).
Hasil penelitian Hurlock (1999) dalam Suyadi (2009), mengatakan bahwa alat permainan yang diberikan saat bermain dapat merangsang perkembangan yang utuh baik secara kognitif, motorik, intelektual, sosial, moral, dan emosional. Menurut Suherman (2010), Penggunaan alat bantu dalam kegiatan bermain pada usia 1-3 tahun dapat menjadi stimulus yang  sangat diperlukan untuk merangsang perkembangan kognitif, motorik, kecerdasan, bahasa, dan adaptasi sosial. Alat permainan mempunyai peranan penting sebagai stimulus  dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Sikap yang dimilki oleh orang tua sebaiknya diiringi dengan pengetahuan yang baik terhadap alat permainan anak sehingga dalam pemilihannya pun tepat sesuai dengan usia dan pertumbuhan serta perkembangan anak pun menjadi optimal. Sebagian besar responden berpendapat bahwa untuk memiliki alat permainan hanya bisa di dapat dengan cara membeli. Padahal alat permainan didapat tidak harus dengan dibeli tetapi dapat dengan membuat sendiri.



.



BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun di PAUD Basoka Sukarame Palembang dapat disimpulkan sebagai berikut :

7.1.1.   Sebagian besar ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun di PAUD Basoka sudah dapat melakukan pemilihan dengan tepat terhadap alat permainan untuk anak usia 1-3 tahun yaitu sebesar 56,7%.
7.1.2.   Pengetahuan yang dimilki oleh ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun di PAUD Basoka terhadap pemilihan alat permainan sudah baik sebesar 53,3%.
7.1.3.   Sikap yang dimiliki oleh ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun di PAUD Basoka tidak berbeda antara sikap positif dan negatif dengan masing-masing persentase sebesar 50%.
7.1.4.   Pengetahuan dan sikap mempunyai hubungan yang bermakna terhadap pemilihan alat permainan anak untuk usia 1-3 tahun dengan Confidence Interval (CI 95%).
7.1.5.   Dalam pemilihan alat permainan diperlukan  peningkatan pengetahuan dan dukungan sikap yang positif dari orang tua sehingga pemilihan alat permainan anak usia 1-3 tahun dapat dilakukan dengan tepat untuk  menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai usia.

7.2  Saran
7.2.1                  Bagi Orang Tua
Diharapkan kepada para orang tua untuk lebih meningkatkan pengetahuan dengan mencari informasi tentang jenis permainan. Selain itu orang tua hendaknya juga aktif dan selektif dalam memberikan alat mainan yang sesuai dengan usia anak untuk perkembangan yang optimal.

7.2.2                  Bagi PAUD Basoka Sukarame Palembang
Diharapkan bagi institusi pendidikan khususnya para pendidik PAUD untuk lebih aktif mensosialisasikan program-program bermainnya dengan menggunakan alat permainan untuk anak didik kepada orang tua anak. Dan untuk Pendidik diharapkan agar dapat meningkatkan kemampuannya dalam belajar-mengajar dengan memenuhi kompetensi “3-ber" (Belajar, Bermain, dan Bernyanyi).

7.2.3.        Bagi Peneliti Yang Akan Datang
peneliti  menyarankan agar peneliti yang akan datang yang ingin melakukan penelitian serupa diharapkan lebih mengembangkan variabel independen dan variabel dependen serta menyempurnakan penelitian ini terutama dalam desain penelitian yang akan digunakan dengan sampel yang lebih besar sehingga didapatkan hasil penelitian yang lebih valid.





















DAFTAR REFERENSI


Adelar, D. (2010). Pentingnya Sikap dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Balita. Yogyakarta: Delta Books


Anwar, M. (2003). Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta : Salemba Medika


Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta


Azwar, J. (2005). Teori Sikap Mempengaruhi Perilaku. Jakarta : Teniko Studi

 Bermain Stimulus Ampuh Latih Kecerdasan. 27 Agustus 2010. http://www. bermain-stimulus-ampuh-latih-kecerdasan-serta-kreativitas-anak.html


Dewi, E. (2010). Stimulasi Optimal Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Balita. Yogyakarta: Delta Books


Hastono, S. (2001). Analisis Data. Jakarta : FKM Universitas Indonesia
Hidayat, A. (2005). Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta : Salemba Medika
      . (2007).  Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika


        . (2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Surabaya: Salemba Medika
      . (2009). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Salemba Medika
Ismail, A. (2009). Education Games. Yogyakarta: Pro-U Media
Mahmud. (2010). Bermain Cerdaskan Emosi Anak. Jakarta : Salemba Medika
Mahyub, M. (2010). Pengaruh Pendidikan Dan Pengetahuan. 2 Juli 2011. http://www.pengaruh-pendidikan-pengetahuan/penelitian/25/11/-//ed.1/html.


Musbikin, I. (2010).  Buku Pintar Paud. Jakarta: Laksana
Narendra, F. (2002). Stimulasi Tumbuh Kembang Balita. Jakarta: X-Widya Dharma

Notoatmodjo, S. (2005). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta

  . (2007). Konsep Perilaku Kesehatan Dan Promosi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta


              . (2010). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

  . (2010). Konsep Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Surabaya : Salemba Medika

Prakoso. (2009). Stimulasi Anak Usia Dini (Panduan Praktis Bagi Ibu dan Calon Ibu). Bandung : Alfabeta

Prasetyaningrum, T. (2009).  Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Anak. Jakarta: Yrama Widya


Rekawati, D. (2002). Teori Sikap Mempengaruhi Perilaku. 02 Juli 2011. http://www.teori-sikap-mempengaruhi-perilaku/2/33/.html. 

Ronald. (2010). Pola Asuh dan Peran Orang Tua bagi Anak. Jakarta :  Rineka Cipta

            . (2006). Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup, Mendidik, dan Mengembangkan Moral Anak. Bandung : Yrama Widya


Rossita, K. (2009). Penelitian Sikap dan Keaktifan Ibu dalam Stimulasi anak dengan Alat Permainan. 03 Juli 2011. http://www.penelitian-sikap-keaktifan-ibu-dalam-stimulasi-anak-dengan-alat-permainan-02234//ed.2//.html.



Sriamin. (2006). Memahami Bermain dan Permainan Anak. Jakarta: Puskindo
Sriamin. (2006). Indonesia Urutan Terendah. 30 Juni 2006. http:/www.Indonesia-Urutan-Terendah-dalam-Riset-Kemampuan-Fisik-dan-Bermain-Anak.html

Soekresno . (2007). Alat Permainan Edukatif Eds.2. Surabaya : Red Bird
Soetjiningsih. (2006). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC
Sudono. (2009). Permainan anak yang Mencerdaskan. Jakarta : Medika cakra
Suherman, S. (2010). Instrumen Anak Pengembang Kreativitas. Jakarta : Salemba Medika

Supartini, Y. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC

Surjadi, G. (2005). Stimulasi Untuk Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Wing Life

Suyadi. (2009). Permainan Edukatif Yang Mencerdaskan. Yogyakarta: Power Books (INDINA)


Wardani, S. (2009). Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemilihan Alat Permainan Anak. )3 Juli 2011. http://www.pengaruh-pengetahuan-terhadap-pemilihan-alat-permainan-penelitian-2315//ed.3//html.


3 komentar:

  1. Gan untuk instrumen penelitian buat sikap sma pengetahuan nya pake apa ya? mohon pencerahan nya

    BalasHapus
  2. mas,., salam sehat,., oh yaa izin kopas yaa soalnya buat referensi skripsi saya yang berjudul,.,."hubungan pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemilihan alat permainan untuk usia todler"

    BalasHapus
  3. asmanurs3.blogspot.com,., jangan lupajalan2.,.di blog atu membahas ilmu kesehatan,., di tunggu di gubuk saya,.,

    BalasHapus